Sunday, December 13, 2009

Sang Pemimpi

sambut hari baru di depanmu
sambung mimpi siap tuk melangkah
raih tanganku jika kau ragu
bila terjatuh ku kan menjaga

berteriaklah hai sang pemimpi
kita tak kan berhenti di sini
kita telah berjanji bersama
taklukan dunia ini
menghadapi segala tantangan
bersama mengejar mimpi-mimpi

Reff:
bersyukurlah indo pada yang maha kuasa
hargailah orang-orang yang menyayangimumu
yang selalu ada setia di sisimu

siapapun jangan kau pernah sakiti
dalam pencarian jati dirimu
dan semua yang kau impikan
tegarlah sang pemimpi


Satu lagu insptiratif dari GIGI untuk soundtrack "Sang Pemimpi".
Janganlah berhenti bermimpi. Kejarlah itu senantiasa sambil tetap berserah akan penyertaan tangan-Nya. Sehingga hidup inipun menjadi “lebih hidup”.

Friday, August 14, 2009

Popoh

Genap satu abad usia popohku saat ia berpulang hari ini. Guratan yang ditinggalkan begitu banyak. Nampak tajam dan jelas di keseharian mama, yang mendidikku tanpa lelah sejak kecil. Disiplin dan penuh kasih sayang. Setidaknya itu yang kurasakan. Dan, akan selalu kuingat. Terima kasih, popoh.

Tuesday, February 17, 2009

Lelaki

"A man only gets a couple chances in life. If he doesn't grab them by the balls, before long he's sitting around wondering how he got to be second rate."

Kutipan di atas terambil dari trailer film Revolutionary Road. Saya sendiri belum nonton film-nya. Bagi sebagian besar orang, kutipan tersebut mungkin berasa biasa-biasa saja. Datar. Namun, saya pribadi tersentak saat pertama kali mendengarnya. Apalagi ini hanya satu kalimat di dalam trailer yang durasinya singkat.

Saya termenung, dan terus merenungkan kalimat ini. Pikir punya pikir, kalimat ini benar adanya. Kesempatan jarang datang dua kali. Bahkan, bila kesempatan tak kunjung datang, mesti mati-matian dikejar. Begitulah kaum Adam. Kenapa yah?

Akhir minggu lalu nonton DVD Seabiscuit. Mengisahkan seorang joki yang kakinya sempat patah, dan ia ingin kembali mengendarai kudanya. Sang pemilik kuda melarang karena khawatir. Namun, akhirnya ia mengijinkan setelah mendengar sepenggal nasihat: "I think it's better to break a man's leg than his heart."

Ya betul, ini soal hati. Dalam lubuk hatinya, seorang lelaki selalu ingin berkompetisi dan memenanginya. Saat kalah memang tidak mengenakkan. Namun, baginya kalah lebih baik daripada tidak mencoba. Mengambil resiko lebih baik daripada duduk diam. Begitulah lelaki.

Saturday, January 24, 2009

Santai

Tahun baru tiba. Bagi saya pribadi, awal yang baru terhampar di depan mata. Jika tulisan ini dianggap "terlambat", ini dikarenakan adanya hal-hal yang mesti diurus sebelum babak yang baru dimulai.

Tanggal 15 kemarin hari terakhir saya di NUS. Bukan berarti perjuangan telah usai. Namun setidaknya satu langkah maju telah diambil. Terus terang saya agak kuatir dengan thesis review. Terlebih thesis committee bukanlah gampangan. Mudah-mudahan segalanya berjalan dengan lancar.

Tanggal 16 juga hari terakhir saya tinggal di Clementi. Karena anak dari pemilik rumah saya kembali, saya terpaksa keluar. Beruntung saya langsung mendapatkan tempat tinggal. Orang-orang di rumah baru menyenangkan. =)

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan urusan administrasi. Dari pembatalan ijin kerja hinggap aplikasi permanent resident. Masing-masing makan waktu sehari penuh. Syukurlah semua berjalan baik. Atas alasan ini saya memutuskan untuk tidak berliburan di Bandung. Oleh karena ini pula saya tidak bisa ikut pergi ke Yogyakarta bersama Pak Ayub. Di lain kesempatan, saya ingin pergi.

Saat ini saya hanya ingin mengisi waktu dengan rileks. Santai. Sebelum memulai karir baru minggu depan. Saat yang dinantikan. Belum tentu mudah, dan pasti ada tantangannya tersendiri. Namun, saya ingin menikmatinya. =)

Wednesday, December 31, 2008

Besok

Akhir tahun. Di hati terdalam, ingin rasanya melewati hari ini seperti biasanya. Mengalir. Namun, banyaknya "kejadian" tahun ini memaksa saya berpikir ulang. Tahun 2008 diawali dengan ketidakpastian, perasaan tertipu. Perjuangan di tengah-tengahnya. Diselingi sepercik senyuman dan gembira. Sayangnya, diakhiri dengan kecewa.

Kecewa karena akhir dari perjalanan panjang selama tiga tahun meleset jauh dari harapan. Kaget dan sedih. Pembelajaran yang sungguh pahit. Kecewa karena semestinya semuanya bisa dilakukan dengan "lebih baik". Sedih.

Dipikir-pikir, sedih tidaklah melulu negatif. Dengan sedih, kita "dipaksa" untuk merenung. Tentang apa yang salah. Bukannya "asal lewat". Seperti orang yang sudah hilang nurani akibat terlalu sering korupsi. Terlalu sering "mencuri", dan sebagainya. Dengan sedih, kita sadar akan keterbatasan kita. Dengan demikian, kita bisa lebih mawas diri.

Besok tanggal satu. Tahun yang baru. Saya tidak ingin memulai yang benar-benar baru. Karena sisa-sisa hari kemarin akan tetap terus membekas. Hanya kepicikan untuk membuang semua yang telah lewat. Namun, saya akan terus berharap untuk memulai yang lebih baik. Hari demi hari.

Friday, December 19, 2008

Gagal, Menyesal dan Belajar

Udah lama ga nulis blog. Gatel juga pengen nulis. Bukan males, tapi hidup seperti roller coaster belakangan ini - naik turun tak terduga. Sekarang lagi di "bawah", bingung gimana naiknya. :) Kepingin nyampein uneg2 hati; berkaitan dengan kegagalan.

Kegagalan kerap diidentikkan dengan penderitaan hidup. Saat jalan di depan berliku dan bergelombang, manusia merasa dirinya tidak berguna. Alias gagal. Ironisnya,banyak yang menganggap itu adalah bagian dari pencobaan. Dimana kita "diberikan" beban yang tak melebihi kemampuan.

Benarkah itu? Jika kasusnya seperti Ayub yang dicobai Iblis, ya mungkin benar. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, kegagalan manusia tuh kok lebih banyak "salah sendiri". Daud dan Salomo gagal karena tak mampu menahan nafsu duniawi. Musa gagal karena tak mampu menahan emosi. Yudas gagal karena kecewa. Dan, banyak lagi.

Maka, sebelum berkesimpulan, berkacalah dulu. Sama seperti saya sekarang. :) Gagal dari kesalahan sendiri di masa lalu. Benar ada situasi dimana kita tak berkuasa menciptakan suasana kondusif sehingga berujung pada kegagalan. Sayangnya, hal itu cuma bisa ditatap balik. Kerap diikuti dengan menggurutu. :) Ujung-ujungnya ya penyesalan.

Nah, harusnya bagaimana? Saya berpikir, sebisa mungkin hindarilah penyesalan. Caranya? Berusahalah sebaik mungkin. Apapun emosi kita saat ini. Seburuk apapun kondisi lingkungan di sekitar kita. Jangan seperti orang yang begitu pesimisnya dengan kondisi di negara kita (Indonesia - red) sampai tidak mau berusaha keras. Akhirnya, yang gagal ya diri dia sendiri.

Maka, jalanilah hari ini dengan legowo. Seperti kata pepatah, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah misteri, masa kini adalah kenyataan. Jika tidak mampu mengubah keadaan sekitar, mulailah dengan diri sendiri. Tetap kerjakan bagian kita. Hari ini dengan sebaik-baiknya. Ingat, masa depan adalah misteri. Namun, dengan berusaha, setidaknya kita menyongsongnya dengan penuh harapan.

Saturday, November 01, 2008

Bukan Takdir

Ini kisah nyata. Seorang ibu setengah baya didiagnosa menderita kanker ganas. Menurut dokter, hidupnya tidak lama lagi. Namun, ia pantang menyerah. Ia beberapa kali berobat ke luar negeri. Semangatnya membuahkan hasil. Ia sembuh! Namun, beberapa bulan kemudian saya terkejut. Ia meninggal!! Bukan karena kanker, tapi tertabrak mobil.

Cerita ini ironis, namun bukan berarti tanpa makna. Saya tuh percaya dalam setiap kejadian di sekitar hidup kita ada loh makna positif yang bisa kita petik. Pertama, saya diingatkan bahwa hidup kita bukanlah di bawah takdir belaka. Sebaliknya, kita punya Tuhan yang berkuasa atas hidup kita. Terlepas dari semua usaha yang kita lakukan. Rencana-Nya tak pernah gagal. Kedua, karena hidup kita tidak di bawah takdir, maka kita mesti peka mendengar kehendak-Nya atas hidup kita. Bagaimana caranya? Tak ada yang lain selain berusaha. Jalani dengan setia apa yang tersedia. Tentunya sambil berdoa. Biarkan Ia yang menyempurnakan.

Wednesday, October 01, 2008

333

Tak dapat dihindari, tak dapat disangkali; namun, mesti dihadapi. Begitulah hidup. Masalah kerap datang tanpa diduga. Keyakinan cepat berganti menjadi keraguan. Kadang hati menjadi ciut. Merasa putus asa. Keadaan tampak suram. Kelam. Seakan jalan yang tak berujung.

Saya sedang mengalaminya. Namun, tak ingin "terhanyut" di dalamnya. Sebaliknya, justru ingin menikmatinya. Disaat "dipaksa" berserah dan bersyukur. Untuk setiap hal yang ada di sekitar saya. Senyum seorang teman. Perhatian seorang sahabat. Perasaan cinta. Kebersamaan. Sekaligus sukacita yang ada di dalamnya. Sambil terus berdoa dan berusaha.

Malam ini saya bisa lebih bersyukur. Mama telpon, dan memberikan ayat mas. Seingat saya, ini pertama kalinya. Judulnya "333" - terambil dari Yeremia 33:3, "Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui." Itulah janji pemulihan Tuhan atas Yerusalem dan Yehuda.

Memang betul berada "di bawah" tidaklah nyaman. Namun, bukankah dengan demikian kita bisa merasa senang saat ada "di atas"? Bayangkan jika kita selalu berada di jalan tol, akankah kita bisa menghargai rasanya bebas dari kemacetan? Lagipula, di saat "macet", kita bukannya tanpa daya. Ia berjanji bahwa kita masih bisa berseru sambil menantikan pertolonganNya. Karena, meski sekarang kita tak mengerti, percayalah Ia tahu yang terbaik. Itu pasti.

Wednesday, September 24, 2008

Em El dan Mbak Leh

Dua minggu belakangan ini, milis teman-teman tenis penuh dengan istilah (singkatan, julukan, atau apapun itu): Em El, Mbak Leh. Belum lagi beruang, mbe, emas, pot, pol dan lain-lain. Dahi berkerut saat membacanya. Ironisnya, tetep ga ngerti. =) Semua orang bisa menebak ini berkaitan dengan krisis ekonomi di "Kerajaan Amerika". Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai "awal sebuah keakhiran".

Apapun itu - terlepas dari ketidakngertian saya (atau, masa bodoh) - kita masih bisa belajar:

  1. Tak ada yang abadi. Segala sesuatu di dunia ini ada masanya. Bahkan perusahaan raksasa yang katanya mencapai masa keemasannya tahun lalu. Gelar, jabatan dan kekayaan bukanlah jaminan. Maka, janganlah hanya membangun "kerajaan sendiri" di dunia ini.
  2. Konsekuensinya, hidup akan selalu bagaikan roller coaster - kadang di atas, kadang di bawah. Maka, di saat kelam, percayalah yang baik akan datang. Sebaliknya, saat bahagia, bagikanlah kasih. Sebab, nanti ada kalanya Anda akan menerima kebaikan dari orang lain di saat Anda memerlukannya.
  3. Karena kita kuat terikat di dalam roller coaster, janganlah kuatir. Naik, turun, berbalik arah; kepala di bawah, kaki di atas; kita semua ada di dalam genggaman tanganNya. Percayalah pada akhirnya kita akan sampai tujuan. Bila kita tetap setia.

Tuesday, September 23, 2008

Arsenal

Sebuah memo milik pelatih Arsene Wenger terkuak. Di dalamnya tersimpan rahasia sukses Arsenal - tim tangguh, dihuni pemain muda berbakat, minim pemain bintang; meski bukan tim kaya - seperti Manchester United, Chelsea - Arsenal kokoh di puncak Liga Inggris saat ini. Isinya antara lain, "Sebuah tim menjadi kuat jika ada hubungan baik antar pemain di dalamnya. Kekuatan yang mengendalikan tim adalah kemampuan anggotanya untuk membuat dan menjaga hubungan baik dalam tim yang dapat menambah dimensi dan ketahanan dinamisasi tim." Selebihnya, pemain The Gunners dikenal berkomitmen, positif, dan rendah hati - di dalam dan di luar lapangan. Bravo, Arsenal!

Membangun kebersamaan sebuah tim tidaklah mudah. Kerap biangnya adalah perseteruan akibat sikap egois para anggotanya. Uniknya, kita seringkali pula lupa. Saat kita melantunkan komitmen kita namun diri sendirilah yang dipikirkan. Atau, mengatasnamakan sesuatu "yang lain" - yang tampak baik dan mulia. Namun, di saat yang sama kebersamaan itu runtuh. Saat kebersamaan mulai goyah, berhati-hatilah. Ada yang salah dibaliknya.

Friday, September 12, 2008

Buta

Banyak hal yang tak seindah luarnya. Pacar cantik tapi sering jalan bareng cowo lain; suami kaya tapi kelakuan ga bener; ilmuwan terkenal tapi ga jujur; direktur perusahaan tapi kasar terhadap bawahan.

Jika tidak tahu, kerap kita akan bergumam "wah hebatnya". Tapi ini sih wajar. Soalnya tidak tahu. Palingan kita perlu mengenal dulu sebelum menilai. Ini namanya buta karena belum belajar. Intinya, jangan menilai sesuatu hanya dari kulitnya.

Namun, ada penyakit yang lebih "kronis" - pura-pura buta atau tutup sebelah mata. Buta yang disengaja. Karena kaya, saya ga peduli suami saya selingkuh. Karena terkenal, tidak apa-apa direktur korupsi. Karena "benar", saya ga peduli kalo saya itu egois. Kalau ini sih bisa jadi penyakit menular.

Makanya saya lebih senang bergaul dengan orang yang "rendah hati". Apapun statusnya. Entah itu direktur perusahaan, orang kaya, profesor, pendeta dan sebagainya. Setidaknya dengan rendah hati, tidak ada kepalsuan. Asal jangan pura-pura rendah hati. Itu sih bikin orang lain menjadi buta. =)

Monday, September 08, 2008

Papa

Saya beruntung memiliki papa yang dekat di mata, juga dekat di hati. Sedari kecil, ia selalu hadir dalam hidup kami anak-anaknya. Dalam studi, bermain, berolahraga. Ia jugalah yang memperkenalkan mula-mula memperkenalkan tenis; hingga saya jatuh cinta. =) Sebuah pribadi yang kalem, ga neko-neko, jujur dan rendah hati. Mungkin saya lebih sering dimarahi mama daripada papa. Mama sering berkata kalo papa itu orangnya terlalu baik, kadang suka dimanfaatkan orang lain. Tetaplah ia jadi panutan dan teladan buat saya.

Benar kata Pak Ayub dalam kotbahnya kemarin. Peran seorang ayah tidak ditentukan berdasarkan kekayaan, jabatan, maupun tingkat pendidikan. Ayah adalah tempat berlindung bagi anak-anaknya di saat mereka kesulitan. Tempat bersandar di saat mereka sedih. Teman bermain di saat mereka kesepian. Sekaligus guru yang bisa keras dalam mendidik di saat mereka salah jalan. Terima kasih ayah..

Yang Terbaik Bagimu
(Ada Band)

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi dan harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan dalam waktu kuberanjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Aku trus berjanji takkan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
Kan kubuktikan kumampu penuhi maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

Thursday, August 21, 2008

Integritas

James Blake kalah dari Fernando Gonzales di semifinal tenis Olimpiade Beijing. Namun, yang membuat ia terlebih kecewa adalah ketidakjujuran Gonzales. Bola yang dipukul Blake mengenai raket Gonzales, namun dinyatakan keluar oleh wasit. Gonzales sendiri tak mengaku. Saat itu poin kritis. Kita bisa mengerti mengapa Gonzales mengelak. Di saat situasi sulit dan terjepit, integritas seseorang sesungguhnya diuji.

Saat ini mungkin kita menganggap remeh soal integritas. Ga heran karena disaat semuanya berjalan baik, kita dengan entengnya dapat berkata, "Saya orang berintegritas tinggi karena saya bertanggung jawab, dan sebagainya." Itu bagus, meski bukanlah ujian sesungguhnya. Bayangkan ketika sebuah project team dalam kesulitan - atau, di ambang kegagalan - dan Anda tahu bahwa Anda melakukan kesalahan, bisakah Anda mengakuinya? Sulit. Konsekuensinya besar - bisa kena omelan, bahkan dipecat. Pertanyaannya, maukah Anda?

Dalam hal ini, kita punya teladan. Yusuf namanya. Ia tetap setia meskipun selalu "digoda" oleh istri Potifar. Hingga ia akhirnya difitnah dipenjarakan. Tidak mudah. Namun, ia percaya bahwa Tuhan selalu menyertainya. Dan pada akhirnya rencanaNya yang indah tergenapi dalam hidup Yusuf.

Bila Anda belum mengalaminya, percayalah suatu saat di masa mendatang Anda akan. Ada baiknya kita mempersiapkan diri. Dengan bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya benar-benar orang yang berintegritas?" Sebelum saat itu tiba, semoga Anda dapat tegas menjawab "ya".

Thursday, August 07, 2008

Sendu

Kemarin pagi saya terkejut. Di-sms teman. Teman kala SMA dulu meninggal. Dikabarkan jatuh dari pelataran parkir sebuah shopping centre. Sendu.

Namanya Rikkie Lawa. Seorang sahabat. Akrab dipanggil abui. Kita sempat sekelas saat kelas 1 SMA. Sering main bola bareng, meski tidak satu tim. Anaknya baik - toleran dan selalu mengalah. Kesan yang tak pernah hilang dari ingatan, mesti sudah hampir 10 tahun tak bersua dengannya.

Ia punya saudara kembar; Riko Lawa namanya, akrab dipanggil melon. Kita berteman juga, meski tidak sedekat abui. Teringat di kala kita main bola bareng hampir setiap hari sepulang sekolah. Dengan masih berseragam putih-abu dan bermandikan keringat, kita bermain dan bersenda gurau bersama. Sedih, namun saya hanya bisa berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga tabah dan tetap dikuatkan.

Wednesday, July 30, 2008

Terharu

Udah lama ga nulis blog. Banyak yang terjadi dalam hidup akhir-akhir ini; banyak waktu yang terhabiskan pula. Namun, hari ini saya pribadi terharu - setidaknya untuk dua hal yang terjadi Sabtu lalu dan kemarin.

Sabtu lalu, saat tenis di pagi hari, tiba-tiba ponsel berdering. Ternyata dari profesor! Pikiran langsung berkecamuk; karena tak jarang ia meminta kita bekerja di akhir pekan. Nyatanya, dia mengundang untuk makan malam! Selamatan rumah barunya. Bersama teman-teman lab, saya berkunjung ke rumahnya. Beragam makanan enak telah tersedia; dimulai dari soba, udang bakar, vegetarian food, dan banyak lagi. Yang membuat saya terharu, ternyata ia sendiri dan pembantunya menyiapkan sajian untuk kami. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia tiba-tiba menjadi seorang pribadi yang melayani.

Kemarin malam seorang senior melakukan thesis defense. Ia melakukan presentasi dari Amsterdam. Unik juga. Komunikasi tiga arah - Singapura, Boston dan Amsterdam. Kita sama-sama di program SMA, dan hubungan kita cukup dekat. Dibimbing dua profesor yang sama, saya mengerti betul kesulitan yang ia hadapi dalam menjalani program PhD ini. Presentasi lancar, meski ia sempat khawatir akan lidahnya yang kaku. Saya terharu di saat ia memaparkan acknowledgement. Bagi saya, ungkapan terima kasihnya sangatlah personal - orang per orang, pribadi lepas pribadi. Saya dapat merasakan perjuangan berat yang ia telah jalani. Akhirnya, ia menampilkan gambar foot prints (tapak kaki). Ia berkata,"Terima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah menggendong saya melalui masa-masa ini." Hati saya berlinang. Ia seorang Kristen yang lahir baru, dan mungkin lebih "baru" daripada saya. Ia dengan tulus memaparkan penyertaanNya. Bisakah saya? Pertanyaan yang harus saya jawab pada nantinya.

Dari keterharuan, saya belajar:
  1. Berilah orang kesempatan. Kerap kita menghakimi orang terlalu dini. Bersabarlah. Pada saatnya nanti, sisi positifnya akan muncul.
  2. Kerap kita merasa telah "mapan" dan "dewasa" dalam iman, nyatanya belum tentu. Tetaplah pelihara iman. Dalam tindakan; dengan tulus dan rendah hati.

Thursday, July 17, 2008

My Tipping Point

Pernahkah Anda merasa di satu titik dimana "bola berada di tangan Anda" dan semuanya "bergantung" hanya pada satu kesempatan. Bila berhasil, jalan terbuka. Gagal ya jalan tertutup. The tipping point - titik perubahan.

Saat ini saya merasakannya - kegagalan telah menjadi "menu sehari-hari". Saya bersyukur. Muncul satu titik terang, ada satu kesempatan - semuanya bergantung pada diri saya sendiri: make it or forget it! Layaknya penendang penalti terakhir yang menentukan menang atau kalah.

Saya berusaha keras dan berdoa: "Bapa, tolonglah anakmu yang saat ini sedang lemah hati; pimpin dan kuatkanlah, biarlah kehendakMu yang jadi."

Tuesday, July 15, 2008

Federer-Nadal

Jika ada pertanyaan: "apa yang menjadi kebanggaanmu hidup pada generasi sekarang?". Tak ragu, saya akan menjawab dengan keberadaan dua petenis terbaik dunia saat ini - Federer-Nadal. Dua yang terbaik dengan gaya permainan yang berbeda, karakter yang berbeda. Yang sama adalah keduanya menampilkan tenis dengan menawan. Duta besar tenis untuk dunia.

Final Wimbledon 2008 (yang akhirnya dimenangkan Nadal) adalah pertandingan tenis terbaik yang pernah saya saksikan. Tahun lalu (Wimbeldon 2007 - red) saya sudah berkata dalam hati, "ini akan menjadi yang terbaik". Namun, ternyata tidak. Keduanya kembali bertemu di final dan laga menjadi sangat dramatis. Diwarnai dua delay karena hujan, saya tak berani untuk tidur karena takut terlewat. :) Alhasil, tidurpun jadi jam 4 subuh! Namun, hal ini tidaklah sia-sia.

Keduanya bermain dengan sangat apik. Saat menonton laga semifinal, saya sempat ragu Federer mampu mengimbangi Nadal. Dalam hati, saya berkata 60-40 untuk Nadal. Namun, yang terjadi justru sebaliknya - Federer bermain baik dan agresif. Meski tertinggal (4-6, 4-6) di dua set pertama, itu tidaklah menggambarkan ketatnya laga mereka - mungkin perbedaan poin mereka hanyalah tiga: Nadal bisa memanfaatkan dua break points dengan baik, sedangkan Federer hanya mampu mengambil satu break point dari sekitar sepuluh kesempatan. Set ketiga, Federer mampu bertahan dan menang dengan tie-break. Set keempat, disanalah mental Federer dan Nadal diuji - Nadal memiliki dua championship points, namun Federer mampu mematahkannya dan bahkan menang dramatis. Set kelima, keduanya tetap ngotot, hanya akhirnya Federer tak mampu mempertahankan servisnya dan menyerah 7-9. Game, set, match, Nadal!

Kecewa? Jelas iya - dari dahulu saya pendukung Federer. Namun, tak bisa dipungkiri Nadal bermain dengan sangat baik. Congratz, Rafa! Saya lebih tertarik melihat bagaimana Federer bangkit dari "keterpurukan"-nya tahun ini. Show me how you rise from the dawn, champs!