Wednesday, July 30, 2008

Terharu

Udah lama ga nulis blog. Banyak yang terjadi dalam hidup akhir-akhir ini; banyak waktu yang terhabiskan pula. Namun, hari ini saya pribadi terharu - setidaknya untuk dua hal yang terjadi Sabtu lalu dan kemarin.

Sabtu lalu, saat tenis di pagi hari, tiba-tiba ponsel berdering. Ternyata dari profesor! Pikiran langsung berkecamuk; karena tak jarang ia meminta kita bekerja di akhir pekan. Nyatanya, dia mengundang untuk makan malam! Selamatan rumah barunya. Bersama teman-teman lab, saya berkunjung ke rumahnya. Beragam makanan enak telah tersedia; dimulai dari soba, udang bakar, vegetarian food, dan banyak lagi. Yang membuat saya terharu, ternyata ia sendiri dan pembantunya menyiapkan sajian untuk kami. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia tiba-tiba menjadi seorang pribadi yang melayani.

Kemarin malam seorang senior melakukan thesis defense. Ia melakukan presentasi dari Amsterdam. Unik juga. Komunikasi tiga arah - Singapura, Boston dan Amsterdam. Kita sama-sama di program SMA, dan hubungan kita cukup dekat. Dibimbing dua profesor yang sama, saya mengerti betul kesulitan yang ia hadapi dalam menjalani program PhD ini. Presentasi lancar, meski ia sempat khawatir akan lidahnya yang kaku. Saya terharu di saat ia memaparkan acknowledgement. Bagi saya, ungkapan terima kasihnya sangatlah personal - orang per orang, pribadi lepas pribadi. Saya dapat merasakan perjuangan berat yang ia telah jalani. Akhirnya, ia menampilkan gambar foot prints (tapak kaki). Ia berkata,"Terima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah menggendong saya melalui masa-masa ini." Hati saya berlinang. Ia seorang Kristen yang lahir baru, dan mungkin lebih "baru" daripada saya. Ia dengan tulus memaparkan penyertaanNya. Bisakah saya? Pertanyaan yang harus saya jawab pada nantinya.

Dari keterharuan, saya belajar:
  1. Berilah orang kesempatan. Kerap kita menghakimi orang terlalu dini. Bersabarlah. Pada saatnya nanti, sisi positifnya akan muncul.
  2. Kerap kita merasa telah "mapan" dan "dewasa" dalam iman, nyatanya belum tentu. Tetaplah pelihara iman. Dalam tindakan; dengan tulus dan rendah hati.

Thursday, July 17, 2008

My Tipping Point

Pernahkah Anda merasa di satu titik dimana "bola berada di tangan Anda" dan semuanya "bergantung" hanya pada satu kesempatan. Bila berhasil, jalan terbuka. Gagal ya jalan tertutup. The tipping point - titik perubahan.

Saat ini saya merasakannya - kegagalan telah menjadi "menu sehari-hari". Saya bersyukur. Muncul satu titik terang, ada satu kesempatan - semuanya bergantung pada diri saya sendiri: make it or forget it! Layaknya penendang penalti terakhir yang menentukan menang atau kalah.

Saya berusaha keras dan berdoa: "Bapa, tolonglah anakmu yang saat ini sedang lemah hati; pimpin dan kuatkanlah, biarlah kehendakMu yang jadi."

Tuesday, July 15, 2008

Federer-Nadal

Jika ada pertanyaan: "apa yang menjadi kebanggaanmu hidup pada generasi sekarang?". Tak ragu, saya akan menjawab dengan keberadaan dua petenis terbaik dunia saat ini - Federer-Nadal. Dua yang terbaik dengan gaya permainan yang berbeda, karakter yang berbeda. Yang sama adalah keduanya menampilkan tenis dengan menawan. Duta besar tenis untuk dunia.

Final Wimbledon 2008 (yang akhirnya dimenangkan Nadal) adalah pertandingan tenis terbaik yang pernah saya saksikan. Tahun lalu (Wimbeldon 2007 - red) saya sudah berkata dalam hati, "ini akan menjadi yang terbaik". Namun, ternyata tidak. Keduanya kembali bertemu di final dan laga menjadi sangat dramatis. Diwarnai dua delay karena hujan, saya tak berani untuk tidur karena takut terlewat. :) Alhasil, tidurpun jadi jam 4 subuh! Namun, hal ini tidaklah sia-sia.

Keduanya bermain dengan sangat apik. Saat menonton laga semifinal, saya sempat ragu Federer mampu mengimbangi Nadal. Dalam hati, saya berkata 60-40 untuk Nadal. Namun, yang terjadi justru sebaliknya - Federer bermain baik dan agresif. Meski tertinggal (4-6, 4-6) di dua set pertama, itu tidaklah menggambarkan ketatnya laga mereka - mungkin perbedaan poin mereka hanyalah tiga: Nadal bisa memanfaatkan dua break points dengan baik, sedangkan Federer hanya mampu mengambil satu break point dari sekitar sepuluh kesempatan. Set ketiga, Federer mampu bertahan dan menang dengan tie-break. Set keempat, disanalah mental Federer dan Nadal diuji - Nadal memiliki dua championship points, namun Federer mampu mematahkannya dan bahkan menang dramatis. Set kelima, keduanya tetap ngotot, hanya akhirnya Federer tak mampu mempertahankan servisnya dan menyerah 7-9. Game, set, match, Nadal!

Kecewa? Jelas iya - dari dahulu saya pendukung Federer. Namun, tak bisa dipungkiri Nadal bermain dengan sangat baik. Congratz, Rafa! Saya lebih tertarik melihat bagaimana Federer bangkit dari "keterpurukan"-nya tahun ini. Show me how you rise from the dawn, champs!

Sunday, July 06, 2008

Jomblo

“Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memeang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerjaan Sorga.” Matius 19:12

Baca: I Korintus 7:17-42

Seorang gadis lajang berdoa syafaat: “Ya Tuhan, kalau memang dia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku. Amin.” Humor diatas bisa terjadi kapan dan pada siapa saja, terutama kalangan jomblo.

Seorang jomblo kerap dianggap tabu. Bahkan orang memandang jomblo sebagai penderitaan. Hidup terasa sulit saat pasangan hidup tak kunjung mendekat. Tapi, bukankah penyebabnya adalah karena kita mendengarkan orang lain? Yang terlebih penting adalah bagaimana kita bersikap. Jika direspon secara positif, hiduppun akan terasa lebih ringan. Jomblo tidaklah identik dengan hidup merana. Dengan waktu yang lebih luang dan konsentrasi yang lebih besar, bukankah itu merupakan kesempatan untuk berkarya? Jomblo bukan juga berarti kita hidup sendiri. Bukankah dengannya kesempatan membangun relasi dengan orang lain jadi lebih terbuka?

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus menganjurkan hidup dengan tidak menikah. Namun, ini sifatnya tidaklah mutlak. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut mengingatkan akan “harga” yang harus dibayar dalam hidup berpasangan. Kita diingatkan, kalaupun berpasangan, janganlah sampai terbelenggu perkara duniawi. Janganlah riak-riak pernikahan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan tetaplah sama – berkarya untuk melayani dan memuliakan namaNya. Yang berbeda hanyalah lingkupnya.
Jadi, menikah atau jomblo itu pilihan. Bila menikah, bijaklah membina keluarga. Bila tidak, jadilah jomblo yang bajik. Bagi jomblo yang ngebet menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada di tangan-Nya. Sabar dan bersyukurlah – rencanaNya indah menanti - DYA.

Apapun statusnya, kita ada bersama-sama di dalam satu keluarga Allah.

Tuesday, July 01, 2008

1 Juli

Hari yang selalu spesial buatku. Dimanapun kuberada. Bukan hanya pertengahan tahun - dimana kita bisa merenung ke belakang, sekaligus menatap sisa waktu tahun ini dengan penuh harapan; titik transisi. Namun, 1 Juli adalah juga genap bagiku. Genap usiaku 26 tahun hari ini. Tak muda, tak tua, namun banyak hal suka duka teralami setahun terakhir ini - membuatku tak pernah berhenti bersyukur kepadaNya.

Lucu juga kemaren malam. Dikerjain teman-teman. Ini pertama kalinya saya menyanyikan lagu ulang tahun sendiri di depan kue sendiri. Disuruh nyanyi, trus minum "racikan bin ajaib". Lanjut dengan hias wajah pakai krim kue. =) It's all fun! Thanks, guys...

Hari ini fun! Siang ngampus, tapi beruntung kerjaan tidaklah banyak. Dapat pula beberapa kado dari teman. Thank you. :) Malam main tenis, ketemu teman-teman - mungkin penampilan terbaik sepanjang tahun, hehe. Intinya, senang. Thank you Lord for making today very special.

Bicara soal birthday wish. Ada banyak; beberapa belum mampu saya jalani. Ingin cepat lulus, terus kerja - biar bisa aplikasi ilmu. Soal tenis, kepingin secanggih Federer - usia baru 26 tahun tapi sudah menang 5 Wimbledon. Soal nulis, kepingin elegan seperti Pak Ayub. Belum kesampaian; namun, saya senang karena hidup ini terus mengalir - meski kadang lancar seperti air sungai, kadang mampet seperti di selokan yang banyak sampahnya.

Dalam semuanya itu, saya ingin makin bijaksana. Juga, makin disayang olehNya dan sesama. Saya belajar: apapun yang terjadi dalam hidup ini - suka maupun duka - yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya; bagaimana kita bertolak daripadanya. Dan, respon kita akan menghasilkan buahnya. Alangkah indah bila buah-buahnya itu menjadi berkat bagi orang lain.