Besok
Akhir tahun. Di hati terdalam, ingin rasanya melewati hari ini seperti biasanya. Mengalir. Namun, banyaknya "kejadian" tahun ini memaksa saya berpikir ulang. Tahun 2008 diawali dengan ketidakpastian, perasaan tertipu. Perjuangan di tengah-tengahnya. Diselingi sepercik senyuman dan gembira. Sayangnya, diakhiri dengan kecewa.
Kecewa karena akhir dari perjalanan panjang selama tiga tahun meleset jauh dari harapan. Kaget dan sedih. Pembelajaran yang sungguh pahit. Kecewa karena semestinya semuanya bisa dilakukan dengan "lebih baik". Sedih.
Dipikir-pikir, sedih tidaklah melulu negatif. Dengan sedih, kita "dipaksa" untuk merenung. Tentang apa yang salah. Bukannya "asal lewat". Seperti orang yang sudah hilang nurani akibat terlalu sering korupsi. Terlalu sering "mencuri", dan sebagainya. Dengan sedih, kita sadar akan keterbatasan kita. Dengan demikian, kita bisa lebih mawas diri.
Besok tanggal satu. Tahun yang baru. Saya tidak ingin memulai yang benar-benar baru. Karena sisa-sisa hari kemarin akan tetap terus membekas. Hanya kepicikan untuk membuang semua yang telah lewat. Namun, saya akan terus berharap untuk memulai yang lebih baik. Hari demi hari.
Wednesday, December 31, 2008
Friday, December 19, 2008
Gagal, Menyesal dan Belajar
Udah lama ga nulis blog. Gatel juga pengen nulis. Bukan males, tapi hidup seperti roller coaster belakangan ini - naik turun tak terduga. Sekarang lagi di "bawah", bingung gimana naiknya. :) Kepingin nyampein uneg2 hati; berkaitan dengan kegagalan.
Kegagalan kerap diidentikkan dengan penderitaan hidup. Saat jalan di depan berliku dan bergelombang, manusia merasa dirinya tidak berguna. Alias gagal. Ironisnya,banyak yang menganggap itu adalah bagian dari pencobaan. Dimana kita "diberikan" beban yang tak melebihi kemampuan.
Benarkah itu? Jika kasusnya seperti Ayub yang dicobai Iblis, ya mungkin benar. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, kegagalan manusia tuh kok lebih banyak "salah sendiri". Daud dan Salomo gagal karena tak mampu menahan nafsu duniawi. Musa gagal karena tak mampu menahan emosi. Yudas gagal karena kecewa. Dan, banyak lagi.
Maka, sebelum berkesimpulan, berkacalah dulu. Sama seperti saya sekarang. :) Gagal dari kesalahan sendiri di masa lalu. Benar ada situasi dimana kita tak berkuasa menciptakan suasana kondusif sehingga berujung pada kegagalan. Sayangnya, hal itu cuma bisa ditatap balik. Kerap diikuti dengan menggurutu. :) Ujung-ujungnya ya penyesalan.
Nah, harusnya bagaimana? Saya berpikir, sebisa mungkin hindarilah penyesalan. Caranya? Berusahalah sebaik mungkin. Apapun emosi kita saat ini. Seburuk apapun kondisi lingkungan di sekitar kita. Jangan seperti orang yang begitu pesimisnya dengan kondisi di negara kita (Indonesia - red) sampai tidak mau berusaha keras. Akhirnya, yang gagal ya diri dia sendiri.
Maka, jalanilah hari ini dengan legowo. Seperti kata pepatah, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah misteri, masa kini adalah kenyataan. Jika tidak mampu mengubah keadaan sekitar, mulailah dengan diri sendiri. Tetap kerjakan bagian kita. Hari ini dengan sebaik-baiknya. Ingat, masa depan adalah misteri. Namun, dengan berusaha, setidaknya kita menyongsongnya dengan penuh harapan.
Udah lama ga nulis blog. Gatel juga pengen nulis. Bukan males, tapi hidup seperti roller coaster belakangan ini - naik turun tak terduga. Sekarang lagi di "bawah", bingung gimana naiknya. :) Kepingin nyampein uneg2 hati; berkaitan dengan kegagalan.
Kegagalan kerap diidentikkan dengan penderitaan hidup. Saat jalan di depan berliku dan bergelombang, manusia merasa dirinya tidak berguna. Alias gagal. Ironisnya,banyak yang menganggap itu adalah bagian dari pencobaan. Dimana kita "diberikan" beban yang tak melebihi kemampuan.
Benarkah itu? Jika kasusnya seperti Ayub yang dicobai Iblis, ya mungkin benar. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, kegagalan manusia tuh kok lebih banyak "salah sendiri". Daud dan Salomo gagal karena tak mampu menahan nafsu duniawi. Musa gagal karena tak mampu menahan emosi. Yudas gagal karena kecewa. Dan, banyak lagi.
Maka, sebelum berkesimpulan, berkacalah dulu. Sama seperti saya sekarang. :) Gagal dari kesalahan sendiri di masa lalu. Benar ada situasi dimana kita tak berkuasa menciptakan suasana kondusif sehingga berujung pada kegagalan. Sayangnya, hal itu cuma bisa ditatap balik. Kerap diikuti dengan menggurutu. :) Ujung-ujungnya ya penyesalan.
Nah, harusnya bagaimana? Saya berpikir, sebisa mungkin hindarilah penyesalan. Caranya? Berusahalah sebaik mungkin. Apapun emosi kita saat ini. Seburuk apapun kondisi lingkungan di sekitar kita. Jangan seperti orang yang begitu pesimisnya dengan kondisi di negara kita (Indonesia - red) sampai tidak mau berusaha keras. Akhirnya, yang gagal ya diri dia sendiri.
Maka, jalanilah hari ini dengan legowo. Seperti kata pepatah, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah misteri, masa kini adalah kenyataan. Jika tidak mampu mengubah keadaan sekitar, mulailah dengan diri sendiri. Tetap kerjakan bagian kita. Hari ini dengan sebaik-baiknya. Ingat, masa depan adalah misteri. Namun, dengan berusaha, setidaknya kita menyongsongnya dengan penuh harapan.
Subscribe to:
Posts (Atom)