Integritas
James Blake kalah dari Fernando Gonzales di semifinal tenis Olimpiade Beijing. Namun, yang membuat ia terlebih kecewa adalah ketidakjujuran Gonzales. Bola yang dipukul Blake mengenai raket Gonzales, namun dinyatakan keluar oleh wasit. Gonzales sendiri tak mengaku. Saat itu poin kritis. Kita bisa mengerti mengapa Gonzales mengelak. Di saat situasi sulit dan terjepit, integritas seseorang sesungguhnya diuji.
Saat ini mungkin kita menganggap remeh soal integritas. Ga heran karena disaat semuanya berjalan baik, kita dengan entengnya dapat berkata, "Saya orang berintegritas tinggi karena saya bertanggung jawab, dan sebagainya." Itu bagus, meski bukanlah ujian sesungguhnya. Bayangkan ketika sebuah project team dalam kesulitan - atau, di ambang kegagalan - dan Anda tahu bahwa Anda melakukan kesalahan, bisakah Anda mengakuinya? Sulit. Konsekuensinya besar - bisa kena omelan, bahkan dipecat. Pertanyaannya, maukah Anda?
Dalam hal ini, kita punya teladan. Yusuf namanya. Ia tetap setia meskipun selalu "digoda" oleh istri Potifar. Hingga ia akhirnya difitnah dipenjarakan. Tidak mudah. Namun, ia percaya bahwa Tuhan selalu menyertainya. Dan pada akhirnya rencanaNya yang indah tergenapi dalam hidup Yusuf.
Bila Anda belum mengalaminya, percayalah suatu saat di masa mendatang Anda akan. Ada baiknya kita mempersiapkan diri. Dengan bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya benar-benar orang yang berintegritas?" Sebelum saat itu tiba, semoga Anda dapat tegas menjawab "ya".
Thursday, August 21, 2008
Thursday, August 07, 2008
Sendu
Kemarin pagi saya terkejut. Di-sms teman. Teman kala SMA dulu meninggal. Dikabarkan jatuh dari pelataran parkir sebuah shopping centre. Sendu.
Namanya Rikkie Lawa. Seorang sahabat. Akrab dipanggil abui. Kita sempat sekelas saat kelas 1 SMA. Sering main bola bareng, meski tidak satu tim. Anaknya baik - toleran dan selalu mengalah. Kesan yang tak pernah hilang dari ingatan, mesti sudah hampir 10 tahun tak bersua dengannya.
Ia punya saudara kembar; Riko Lawa namanya, akrab dipanggil melon. Kita berteman juga, meski tidak sedekat abui. Teringat di kala kita main bola bareng hampir setiap hari sepulang sekolah. Dengan masih berseragam putih-abu dan bermandikan keringat, kita bermain dan bersenda gurau bersama. Sedih, namun saya hanya bisa berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga tabah dan tetap dikuatkan.
Kemarin pagi saya terkejut. Di-sms teman. Teman kala SMA dulu meninggal. Dikabarkan jatuh dari pelataran parkir sebuah shopping centre. Sendu.
Namanya Rikkie Lawa. Seorang sahabat. Akrab dipanggil abui. Kita sempat sekelas saat kelas 1 SMA. Sering main bola bareng, meski tidak satu tim. Anaknya baik - toleran dan selalu mengalah. Kesan yang tak pernah hilang dari ingatan, mesti sudah hampir 10 tahun tak bersua dengannya.
Ia punya saudara kembar; Riko Lawa namanya, akrab dipanggil melon. Kita berteman juga, meski tidak sedekat abui. Teringat di kala kita main bola bareng hampir setiap hari sepulang sekolah. Dengan masih berseragam putih-abu dan bermandikan keringat, kita bermain dan bersenda gurau bersama. Sedih, namun saya hanya bisa berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga tabah dan tetap dikuatkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)