Friday, January 25, 2008

Manusia Bodoh

Ini satu lirik lagu kesukaanku - judulnya "Manusia Bodoh" dari Ada Band.
Kita mesti cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kalo ga bisa, lebih baik menjadi "manusia bodoh" daripada cerdik tapi tak tulus.

Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan selalu jadi
Satu kenangan manis

Tiada yang salah
Hanya aku manusia bodoh
Yang biarkan semua ini permainkanku
Berulang ulang kali

Reff:
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir

Tak ayal tingkah lakumu
Buatku putus asa
Kadang akal sehat ini
Tak cukup membendungnya

Hanya kepedihan
Yang selalu datang menertawakanku
Engkau belahan jiwa
Tega menari indah di atas tangisanku

Thursday, January 24, 2008

Anna vs Maria!

Final Australian Open 2008. Bakal ada wajah baru untuk juara putri. Dua-duanya cantik. =)

Masa-masa grandslam saat ini benar-benar membuat hatiku terhibur. Apalagi saat ini hati sedih dan perasaan tak menentu. Nulis blog kadang jadi pelampiasan emosi (mungkin memang buat itu ya). Mudah-mudahan rasa ini bisa segera berakhir.

Nunggu semifinal putra nih. Federer vs Djokovic. Nadal vs Tsonga. Seru. Terutama Tsonga, petenis Perancis non unggulan. Wajahnya mirip petinju legendaris Mohammad Ali. Belum pernah liat mainnya. Hari ini mau coba nonton pertandingannya.

Tuesday, January 22, 2008

Terlucuti

Pulang ke Singapura kali ini saya merasa terlucuti. Satu-persatu yang sayang anggap berharga dalam hidup hilang. Tanpa bekas, tanpa sebab. Saya sendiri tak mengerti. Beruntung saya punya teman-teman yang setia menemani. Saya berpikir, kesetiaan itu penting. Tanpanya kita akan terus menyakiti hati seseorang. Untuk setia, hati mesti dijaga; bukan dibiarkan "seenaknya". Mulai dari nol memang sakit. Namun, setidaknya saya bersyukur masih bisa "meniti" lagi.

Tuesday, January 08, 2008

Harapan

Kita bisa melangkah hidup, salah satunya karena adanya harapan. Sayangnya, harapan itu kadang ga bisa kita ciptakan sendiri. Kadang bergantung sama orang lain. Kalau begitu, kita hanya bisa berusaha. Lakukan yang terbaik. Dan berharap orang tersebut menebar harapan. Oleh karena itu, sepatutnya dalam tutur kata dan tindakan, kita selalu memberi harapan bagi sesama kita. Hanya kadang kita tak menyadarinya. Selamat berharap dan memberi harapan.
Pilihan

Coba buat renungan pertama tahun 2008 ini. Mudah-mudahan berkenan.

Hidup ini penuh dengan pilihan. Pilihan kadang banyak, kadang perlu dijawab ya atau tidak. Dimulai sejak pagi hari. Kita memilih bangun atau tidur lagi. Siang kita memilih prioritas kerjaan kita. Dan sebagainya. Bahkan, kita seringkali dihadapkan akan pilihan yang penting dan sulit. Misalnya, memilih pekerjaan A atau B. Sudah ga betah di A, tapi belum dapat yang B. :)

Namun, kita kerap tak sadar pilihan-pilihan kita membentuk dan menentukan siapa kita. Pilihan kita "bercerita" tentang hidup kita. Apa yang kita suka, kita mau, kita pikirkan tergambarkan dalam pilihan-pilihan kita. Kabar baiknya kita bisa memilih. Kitalah yang menentukan. Sepatutnya kita berhati-hati dalam memilih. Jangan sembarangan.

Lalu, bagaimanakah pilihan yang benar? Saya gunakan kata "benar" karena "baik" belum tentu "benar". Baik kerap relatif di mata kita, sedang benar itu absolut. Filipi 1:9-10 mengajarkan akan hal ini. Pilihan yang benar adalah yang didasarkan akan kasih yang bersumber akan Yesus. Ini diperoleh dari pengetahuan yang benar tentang-Nya. Untuk memuliakan-Nya. Jadi, Firman Tuhan telah mengajarkan bagaimana kita mebuat pilihan. Tinggal apakah kita menurut. Jika ada pilihan yang tak sesuai, kita masih bisa kok mengubahnya. Selebihnya, jika pilihan itu terlampau sulit, kita bisa berdoa.

Friday, January 04, 2008

Terakhir di Boston

Hari ini satu babak perjalanan hidupku ditutup. Pergi dari Boston, kembali ke Singapura. Tak dapat disangkal, pengalaman disini membuatku bertumbuh. Hari-hari baik, hari-hari buruk datang silih berganti. Boston atau Singapura, MIT atau NUS - bagiku sama saja. Tergantung orangnya. =)

Boston kota yang cantik. Bangunannya cenderung kuno. Pusat kota ga terlalu besar. Mall bisa dihitung jari sebelah tangan. :) Saya menikmatinya. Bersyukur saya juga punya komunitas yang hidup dan sangatlah ramah - ICF Boston dan Cambridgeport Baptist Church. Mereka adalah keluarga di kala saya jauh dari rumah. Thanks, friends...

MIT sangatlah prestigius. Ga heran sebab disinilah kumpulan orang-orang "terbaik". Kadang sedikit arogan, tapi ga semuanya. Banyak yang baik dan rendah hati kok. Tergantung orangnya. =) Saya beruntung bisa menjalani riset dan mengambil kelas disini. Riset mirip-mirip dengan NUS. Kelas memang lebih sulit.

Goodbye, Boston...

Wednesday, January 02, 2008

1 Januari

1 Januari - akhir yang lalu dan awal yang baru. Tak terelakkan, waktu terus berlalu. Namun, ini hanyalah hari berganti hari, tahun berganti tahun. Kenyataan kemarin tetaplah kenyataan. Begitu pula tantangan hari ini dan besok. Bedanya, kita mungkin lebih peka (mungkin lho..) mengambil hikmah masa lalu - jalan terjal ataupun jalan mulus untuk menatap hari-hari ke depan.

Malam tahun baru ini saya habiskan di New York. Ratusan ribu orang memenuhi Times Square. Tradisinya adalah bola lampu yang jatuh saat counting down. Meriah.

Namun, tahun ini saya hanya ngerasain kemeriahan "sesaat". Saya makin sadar 1 Januari hanyalah satu hari yang lain. Mungkin yang paling berkesan dari trip ini waktu saya bertemu ibu dan anak di kereta dalam perjalanan pulang ke hotel. Waktu itu 30 Desember - sekitar jam 8 malam. Ibu dan anak ini chinese. Nampak anaknya lahir disini sedangkan ibunya masih berasal dari Cina. Lalu ada seorang pengamen berkulit hitam. Pakainnya lusuh dan kumuh. Ibu ini memberi receh dan sang anak bertanya, "Kenapa Ibu memberinya uang?" Tanpa menjelaskan panjang lebar, ibu ini menjawab, "Dia lapar, Nak, dan butuh uang untuk makan. Nanti kalau kamu sudah besar dan bisa mencari uang, kamu juga harus membantu orang seperti mereka." Hati saya langsung tersentak. Betapa spontan motivasinya. Kadang kita berpikir seribu kali sebelum membantu orang lain. Kita lupa - meski tahun berganti sebegitu meriahnya - banyak orang disana yang tidak merasakannya. Mereka hanya sanggup berpikir apa yang akan mereka makan besok. Ironisnya, mereka tak seperti yang kita pikir. Mereka bukannya malas, hanya tak mampu mengubah nasib. Roda kehidupan yang mereka harus jalani. Kitalah yang lebih beruntung.

Mungkin tak banyak yang saya harap dari diri saya sendiri. Ajar saya agar semakin peka akan lingkungan sekitar dan makin kurang egois. Tanpa resolusi deh tahun ini. Resolusi tahun baru itu baik. Namun, janganlah dijadikan ambisi atau malahan beban. Hidup kadang tak bisa dipaksakan. Terlalu memaksa kadang hanya menyengsarakan diri sendiri dan orang sekitar kita. Mengalir sajalah. :)