Melambat dan Hidup
Resolusi tahun baru seringkali membuat langkah hidup kita menjadi semakin cepat, bukannya melambat. Umumnya manusia ingin lebih produktif di tahun yang baru. Akibatnya, jadwal dibuat sepadat mungkin dan segala sesuatu menjadi serba terburu-buru. Ini menjadi sebuah tanda tanya besar. Apakah kehidupan semacam ini yang kita inginkan? Apa motivasi kita dalam hidup? Ingin berprestasi bukan sesuatu yang salah. Namun, umumnya hal ini membuat kita cenderung lupa akan hal-hal yang lebih penting. Kita terlalu keras bekerja hingga lupa berdoa dan merenung. Kita terlalu sibuk untuk meluangkan waktu bersama keluarga dan teman. Alhasil, kehidupan akan semakin jauh dari-Nya dan hampa. Ada saatnya kita melambat untuk sekedar merenung dan mendekatkan diri kepada Bapa yang Kekal. Kita bekerja untuk hidup. Dan, alangkah indahnya apabila hidup kita diisi dengan kasih kepada Allah dan sesama.
Monday, February 12, 2007
Saturday, February 10, 2007
Menjaga Hati
Hati adalah sumber keinginan manusia. Seperti yang terlantunkan dalam Amsal 4:23, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan". Kita juga seringkali dicobai oleh keinginan-keinginan kita sendiri dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Menjaga hati menjadi sesuatu yang sulit, namun harus dan perlu. Ini seolah sebuah langkah preventif yang seirama dengan pepatah lama "lebih baik mencegah daripada mengobati". Benar lho, mengobati tidak hanya membutuhkan pengorbanan yang lebih besar, namun juga lukanya akan selalu membekas. Demikian pula dengan menjaga hati yang dapat menghindarkan kita dari penyesalan akan dosa.
Bagaimana caranya menjaga hati? Kuncinya adalah berdoa, merenungkan Firman Tuhan dan evaluasi. Berdoa minta pimpinan Tuhan agar kita dapat selalu setia dan hidup kudus di tengah dunia. Merenungkan Firman-Nya untuk mengajar dan menuntun langkah-langkah kita. Terakhir adalah evaluasi. Ini dapat berupa introspeksi diri maupun diskusi dengan keluarga atau sahabat. Tujuannya adalah sebagai tolok ukur apakah hidup kita sudah memancarkan berkat bagi orang lain di sekitar kita.
Hati adalah sumber keinginan manusia. Seperti yang terlantunkan dalam Amsal 4:23, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan". Kita juga seringkali dicobai oleh keinginan-keinginan kita sendiri dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Menjaga hati menjadi sesuatu yang sulit, namun harus dan perlu. Ini seolah sebuah langkah preventif yang seirama dengan pepatah lama "lebih baik mencegah daripada mengobati". Benar lho, mengobati tidak hanya membutuhkan pengorbanan yang lebih besar, namun juga lukanya akan selalu membekas. Demikian pula dengan menjaga hati yang dapat menghindarkan kita dari penyesalan akan dosa.
Bagaimana caranya menjaga hati? Kuncinya adalah berdoa, merenungkan Firman Tuhan dan evaluasi. Berdoa minta pimpinan Tuhan agar kita dapat selalu setia dan hidup kudus di tengah dunia. Merenungkan Firman-Nya untuk mengajar dan menuntun langkah-langkah kita. Terakhir adalah evaluasi. Ini dapat berupa introspeksi diri maupun diskusi dengan keluarga atau sahabat. Tujuannya adalah sebagai tolok ukur apakah hidup kita sudah memancarkan berkat bagi orang lain di sekitar kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)