Sunday, December 31, 2006

31 Desember 2006

Hari ini akhir tahun 2006. Akhir tahun kali ini agak istimewa. Pertama, hari ini Minggu. Kedua, hari ini bertepatan dengan Idul Adha (hari raya kurban). Namun, suasana tahun ini tampak lebih sepi. Kebaktian pagi di gereja juga sepi. Mungkin malam ini bakal lebih rame di mal atau kafe. Sekarang Bandung makin banyak mal dan kafe, sangat mungkin banyak orang berkumpul disana.

Tadi siang pulang gereja sempat ke supermarket Yogya Riau. Sedang dibangun lagi. Nampaknya akan jauh lebih luas. Yang nyaman disana ialah suasana belanjanya. Barangnya lengkap dan teratur. Tadi beli beberapa camilan untuk menghabiskan malam tahun baru. =) Saya sih di rumah saja, pingin berkumpul bersama keluarga. Ada mama dan papa, Jevan lagi di US. Besok hari pertama di tahun yang baru, berdoa supaya semuanya menjadi semakin baik.

Monday, December 25, 2006

25 Desember 2006

Hari ini hari Natal. Ikut kebaktian pagi di GKI Maulana Yusuf. Ada yang cukup spesial tahun ini. Sebelum kebaktian dimulai, ada perwakilan umat muslim dari NU yang berkunjung untuk menyampaikan damai Natal. Mereka masuk ke gereja, menyalami jemaat, dan membagikan bunga sebagai simbol perdamaian. Senangnya kerukunan umat beragama terjalin di Indonesia. Good. :) Siang ada lunch bareng keluarga di rumah iie (Indonesia: bibi). Pertama kali ketemu mereka sejak saya tiba di Bandung. Senang. Selebihnya saya diam di rumah, menghabiskan novel Tuesdays with Morrie, Bandung hujan terus sepanjang siang hingga malam.

Sunday, December 24, 2006

24 Desember 2006

Telah tiga hari saya berada di Bandung, tempat semua kenangan masa kecil dan remaja tersimpan. Banyak hal telah berubah, namun tak sedikit pula yang tetap. Yang tetap dan yang terpenting adalah kehangatan kasih mama, papa, dan sanak keluarga lainnya. Kasih memang tak pernah pudar. Menurut saya, kesempatan mengasihi dan dikasihi adalah anugerah terbesar dalam hidup ini. Malam ini juga malam Natal. Teringat akan kasih-Nya yang tercurah dengan cuma-cuma kepada kita umat manusia. Unconditional love.

Saya sengaja tidak pergi ke gereja malam ini, mengambil kesempatan ini untuk merenung di antara kemeriahan Natal. Tahun 2006 merupakan tahun yang penuh makna bagi saya. Suka duka datang silih-berganti. Mulai dari publikasi ilmiah saya yang pertama, kehilangan kekasih tercinta, kondisi kesehatan mama yang memburuk, hingga rencana kepindahan adik saya satu-satunya ke Belanda. Semuanya seolah ingin menandakan hidup yang dinamis. Kadang saya terjatuh, memaksa saya berdiam diri sebelum bangkit. Di lain waktu, saya harus berlari hingga akhirnya lelah dan beristirahat sejenak. Namun, tanpa sadar, langkah saya terus maju dan selalu dibimbing oleh Bapa yang Kekal. Thanks, my Big Daddy!

Di balik semuanya itu, saya belajar banyak tentang pengharapan. Teringat akan petikan ayat Alkitab bahwa yang terpenting adalah kasih, iman, dan pengharapan. Kasih yang terpenting, namun ketiganya esensial. Kasih merupakan inti dan tujuan kehidupan kristiani, sedangkan iman kepada Yesus mendasari kasih. Lalu, dimanakah letak dan peran pengharapan? Pengharapan itu bersifat mendorong, memotivasi kita untuk melakukan sesuatu. Yang kerap terjadi adalah motivasi kita salah. Pengharapan kita hanya untuk memuaskan keinginan diri kita sendiri, bukannya untuk memenuhi kehendak Tuhan. Atau, kita menggantungkan harapan kepada manusia, bukaannya Tuhan. Percaya deh, selaraskan motivasi Anda dengan kehendak-Nya karena Ia tak pernah mengecewakan. Ia pasti punya rencana yang indah dalam hidup kita semua.

Selamat Natal! Ingat akan Dia dan kebesaran kasih-Nya.

Tuesday, December 19, 2006

FIFA Player of the Year 2006

Hari ini Fabio Cannavaro dinobatkan sebagai FIFA Player of the Year 2006. Ini pertama kalinya seorang defender dalam 16 tahun terakhir menjadi pemain terbaik FIFA. Kapten timnas Italia ini dikenal sebagai palang pintu yang lugas selain kepemimpinannya di tengah lapangan. Prestasinya tahun ini tidak tanggung-tanggung, membawa Italia juara Piala Dunia dan Juventus scudetto. Kepriabadiannya yang rendah hati dan jauh dari dunia glamor selebritis sepakbola membuat semua kalangan segan kepadanya. Maklum, dulunya dia adalah seorang ball boy di tim Napoli, Italia. Karirnya menanjak tapi pasti. Mantan kapten Parma ini sempat membawa Parma juara piala UEFA 1999. Pernah mengalami frustasi saat dibangkucadangkan di Inter Milan, Cannavaro akhirnya ditransfer ke Juventus dan langsung membantu The Old Lady memenangi scudetto dua tahun berturut-turut. Prestasi memang membutuhkan kerja keras; namun di balik semuanya itu, kesabaran dan sikap positif dalam menghadapi tantangan adalah kuncinya. Bravo, Canna!