Spanyol - Raja Eropa 2008
Spanyol menang! Juara Piala Eropa 2008. Ga sia-sia semalaman nonton. Meski hanya menang tipis atas Jerman (1-0), permainan Spanyol jauh lebih hidup dan menarik. Kualitas teknik gelandang Spanyol tampak jelas di atas Jerman. Akibatnya, lapangan tengah menjadi milik Spanyol, begitu pula pertandingannya.
Kunci keberhasilan Spanyol tak terlepas dari peran pelatihnya, Luis Aragones. Ia membimbing anak-anak asuhnya selayaknya seorang "ayah". Kebersamaan sangatlah kental. Sehingga, meski bertabur bintang, tak ada seorangpun yang spesial. Meski ia pencetak gol terbanyak Liverpool musim lalu, Torres tidaklah bermain penuh. Demikian juga dengan Fabregas. Kecemerlangannya bersama Arsenal "hanya" menjadikannya seorang "super-sub". Saat pemain diganti, tidak ada rona sungut-sungut yang tampak. Sebaliknya, pemain tersebut cepat-cepat meninggalkan lapangan untuk memberi kesempatan kepada rekannya yang lain. Mereka sadar bahwa mereka adalah bagian tim yang tak terpisahkan. Yakin bahwa itu adalah strategi yang terbaik. Mereka percaya kepada pelatih sebagai "panglima", dan rekan tim sebagai "sahabat".
Alangkah indahnya kebersamaan yang harmonis - bersama kita maju.
Monday, June 30, 2008
Sunday, June 29, 2008
Musik Gereja
Kerap kita mengidentikkan pelayanan di gereja dengan musik. Itu tidaklah salah, hanya mungkin kita berpikir terlalu sempit. Namun, tulisan ini bukan ingin membahas tentang hal ini. Melainkan tentang musik gereja itu sendiri - tentang jenis musik yang sesuai untuk ibadah.
Jika ada yang berpendapat kalau ibadah mesti diiringi musik yang khidmat, itu soal selera. Atau hanya mengijinkan penggunaan alat-alat musik tertentu, itu juga soal selera. Soal lirik lagu mungkin lebih sensitif, tapi itu juga soal selera. Sama seperti orang yang lebih suka lagu dangdut yang "cengeng" daripada lagu gubahan Beethoven yang "penuh keagungan". Lagu dangdut mungkin lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani - itu nyata.
Selera bukanlah masalah. Namun, hati dan cara adalah penting. Keduanya saling berkaitan - "hati yang tulus" akan melahirkan "cara yang baik". Namun, janganlah kita mengotak-ngotakkan "cara yang baik". Karena kita bukanlah fokus penyembahan itu sendiri. Bila demikian, seakan-akan kita mangganggap kalau kita tahu selera Tuhan. Kita tidaklah tahu - belum tentu Ia lebih suka bebek "Duck King" dibanding pecel lele "warteg". Sama seperti Ia suka akan persembahan janda miskin yang tulus meski kecil jumlahnya. Tapi yang pasti, Ia suka akan penyembahan yang tulus; Ia juga suka akan penyembahan yang terbaik.
Mereka yang bertalenta musik kerap rindu tentang musik "kelas tinggi". Aransmennya bagus dan liriknya agung. Itu tidaklah salah. Mereka mampu, dan mereka menikmatinya. Bagi orang awam (seperti saya juga, hehe), musik yang sederhana lebih bisa dinikmati karena saya bisa menyanyikannya. Dan, disanalah yang terbaik bisa diberikan. Ingat, musik hanyalah sarana atau alat. Bukankah pujian akan jauh lebih indah ketika mereka yang memuji "menikmati" pujian itu sendiri? Setidaknya itu pasti tulus - Dia tahu.
Kerap kita mengidentikkan pelayanan di gereja dengan musik. Itu tidaklah salah, hanya mungkin kita berpikir terlalu sempit. Namun, tulisan ini bukan ingin membahas tentang hal ini. Melainkan tentang musik gereja itu sendiri - tentang jenis musik yang sesuai untuk ibadah.
Jika ada yang berpendapat kalau ibadah mesti diiringi musik yang khidmat, itu soal selera. Atau hanya mengijinkan penggunaan alat-alat musik tertentu, itu juga soal selera. Soal lirik lagu mungkin lebih sensitif, tapi itu juga soal selera. Sama seperti orang yang lebih suka lagu dangdut yang "cengeng" daripada lagu gubahan Beethoven yang "penuh keagungan". Lagu dangdut mungkin lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani - itu nyata.
Selera bukanlah masalah. Namun, hati dan cara adalah penting. Keduanya saling berkaitan - "hati yang tulus" akan melahirkan "cara yang baik". Namun, janganlah kita mengotak-ngotakkan "cara yang baik". Karena kita bukanlah fokus penyembahan itu sendiri. Bila demikian, seakan-akan kita mangganggap kalau kita tahu selera Tuhan. Kita tidaklah tahu - belum tentu Ia lebih suka bebek "Duck King" dibanding pecel lele "warteg". Sama seperti Ia suka akan persembahan janda miskin yang tulus meski kecil jumlahnya. Tapi yang pasti, Ia suka akan penyembahan yang tulus; Ia juga suka akan penyembahan yang terbaik.
Mereka yang bertalenta musik kerap rindu tentang musik "kelas tinggi". Aransmennya bagus dan liriknya agung. Itu tidaklah salah. Mereka mampu, dan mereka menikmatinya. Bagi orang awam (seperti saya juga, hehe), musik yang sederhana lebih bisa dinikmati karena saya bisa menyanyikannya. Dan, disanalah yang terbaik bisa diberikan. Ingat, musik hanyalah sarana atau alat. Bukankah pujian akan jauh lebih indah ketika mereka yang memuji "menikmati" pujian itu sendiri? Setidaknya itu pasti tulus - Dia tahu.
Thursday, June 26, 2008
Sentuh Hatiku
Betapa kumencintai
Segala yang t'lah terjadi
Tak pernah sendiri jalani hidup ini
Selalu menyertai
Betapa kumenyadari
Di dalam hidupku ini
Kau s'lalu memberi rancangan terbaik
Oleh karena kasih
Reff:
Bapa, sentuh hatiku, ubah hidupku
Menjadi yang baru
Bagai emas murni
Kau membentuk bejana hatiku
Bapa, ajarku mengerti sebuah kasih
Yang selalu memberi
Bagai air mengalir
Yang tiada pernah berhenti
Satu lagu enak dari Maria Shandi. Kabarnya sempet jadi soundtrack sinetron di Indonesia.
Oleh karena kasih, kita berserah atas rancangan-Nya. Juga oleh karena kasih, kita bisa terus memberi dan berbagi.
Ingin dengar?
http://www.imeem.com/janssen135/music/kwI9gxvv/maria_shandi_maria_shandi_sentuh_hatiku/
Tuesday, June 17, 2008
Minta
Saat ini saya sedang berjuang nulis satu artikel tentang "minta". Topik klasik yang erat kaitannya dengan doa. Dapat ide ini sekelibat saat duduk di bis. Sudah dua minggu, tapi saat ini saya tersendat. Ingin nulis yang ringan-ringan, tapi kok ya ga pernah sreg.
Benernya topik ini sangatlah klasik - dua pandangan berbeda akan pengabulan doa. Sebut saja pandangan A dan B. Pandangan A menekankan penyerahan diri akan kehendak Tuhan. Sama seperti saat Yesus berkata,"Kalau mungkin, lewatkanlah cawan ini daripadaKu. Namun, biarlah kehendakMu yang jadi." Sama dengan Doa Bapa Kami, "Jadilah kehendakMu, di bumi seperti di surga." Saat kita meminta, belum tentu kita mendapatkan. Allah Bapa mengerti betul apa yang kita perlu - Ia akan selalu memberi yang terbaik menurut rencanaNya.
Lain pula pandangan B - yang menekankan akan pentingnya iman dalam meminta. Saya tidak ingin mencampur adukkan tentang permintaan yang baik atau buruk, benar atau salah. Anggap saja permintaan tersebut adalah baik dan benar. Misalnya, mendoakan orang untuk bertobat atau kesembuhan orang yang kita cintai. Sesuatu yang besar. Sebuah mujizat. Seperti yang dijanjikan Yesus, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu." Saya percaya, sebagai Bapa yang baik, Ia rindu mendengar akan keinginan kita. Sama seperti iman orang buta yang dicelikkan matanya. Atau janda yang disembuhkan karena imannya saat memegang jubah Yesus. Bukankah mujizat terjadi karena iman mereka yang begitu dahsyat?
Tapi ya kok kenyataannya berbicara lain - ga semua doa kita terkabul. Dalam hal ini, pandangan A mungkin lebih relevan. Tak heran ini menjadi pandangan yang dianut oleh kebanyakan gereja. Namun, entah mengapa hati saya ga pernah sreg. Selalu terpikir pandangan B. Jika itu yang Ia janjikan, apakah janjiNya hanya setengah-setengah? Janji yang "kalau" - kalau itu sesuai dengan kehendak-Ku, maka akan Kukabulkan. Ini juga mengherankan.
Saya merasa tidaklah mungkin untuk menggabungkan keduanya. Mungkin ada konteks yang berbeda. Namun itu yang saya tak bisa jawab - bagaimana saya harus berdoa malam ini?
Saat ini saya sedang berjuang nulis satu artikel tentang "minta". Topik klasik yang erat kaitannya dengan doa. Dapat ide ini sekelibat saat duduk di bis. Sudah dua minggu, tapi saat ini saya tersendat. Ingin nulis yang ringan-ringan, tapi kok ya ga pernah sreg.
Benernya topik ini sangatlah klasik - dua pandangan berbeda akan pengabulan doa. Sebut saja pandangan A dan B. Pandangan A menekankan penyerahan diri akan kehendak Tuhan. Sama seperti saat Yesus berkata,"Kalau mungkin, lewatkanlah cawan ini daripadaKu. Namun, biarlah kehendakMu yang jadi." Sama dengan Doa Bapa Kami, "Jadilah kehendakMu, di bumi seperti di surga." Saat kita meminta, belum tentu kita mendapatkan. Allah Bapa mengerti betul apa yang kita perlu - Ia akan selalu memberi yang terbaik menurut rencanaNya.
Lain pula pandangan B - yang menekankan akan pentingnya iman dalam meminta. Saya tidak ingin mencampur adukkan tentang permintaan yang baik atau buruk, benar atau salah. Anggap saja permintaan tersebut adalah baik dan benar. Misalnya, mendoakan orang untuk bertobat atau kesembuhan orang yang kita cintai. Sesuatu yang besar. Sebuah mujizat. Seperti yang dijanjikan Yesus, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu." Saya percaya, sebagai Bapa yang baik, Ia rindu mendengar akan keinginan kita. Sama seperti iman orang buta yang dicelikkan matanya. Atau janda yang disembuhkan karena imannya saat memegang jubah Yesus. Bukankah mujizat terjadi karena iman mereka yang begitu dahsyat?
Tapi ya kok kenyataannya berbicara lain - ga semua doa kita terkabul. Dalam hal ini, pandangan A mungkin lebih relevan. Tak heran ini menjadi pandangan yang dianut oleh kebanyakan gereja. Namun, entah mengapa hati saya ga pernah sreg. Selalu terpikir pandangan B. Jika itu yang Ia janjikan, apakah janjiNya hanya setengah-setengah? Janji yang "kalau" - kalau itu sesuai dengan kehendak-Ku, maka akan Kukabulkan. Ini juga mengherankan.
Saya merasa tidaklah mungkin untuk menggabungkan keduanya. Mungkin ada konteks yang berbeda. Namun itu yang saya tak bisa jawab - bagaimana saya harus berdoa malam ini?
Monday, June 16, 2008
Satu lagu yang bisa bikin semangat. :)
Betapa indahnya punya sahabat sejati Yesus. Ia tak pernah jemu berada di sisi kita.
Betapa indahnya punya sahabat sejati Yesus. Ia tak pernah jemu berada di sisi kita.
Yesus, Kaulah Sahabatku
Hidup yang kupilih, membuatku berarti.
Karena Yesus Tuhan. Tempat kupercaya dan berharap.
Kubuka mataku. Lihat sek'lilingku.
Kuharus nyatakan. KebenaranNya yang membebaskan.
Kar'na kuasaMu. Kar'na kehebatanMu.
Kudapat lakukan perkara besar. Yang Engkau janjikan.
Chorus:
Yesus, Kaulah sahabatku.
Yesus, Kau yang akan selalu berada di sisiku.
Kau sumber kuatku.
Yesus, Kaulah sahabatku.
Yesus, Kau yang tak pernah jemu-jemu di sisiku.
Kau sumber kuatku.
Ingin dengar?
Subscribe to:
Posts (Atom)