Tuesday, July 31, 2007

Kesalahan

Hari ini ada seminar bioteknologi. Tentang fermentasi. Singkatnya, gimana cara buat obat atau senyawa kimia dari mikroorganisme. Seminar ini dikhususkan buat praktisi industri. Mereka harus bayar sekitar 3000 dolar! Waaakk. Saya beruntung. Bisa masuk gratis. :) Kemarin waktu tenis diajak oleh profesor yang kebetulan mengajar disana.

Malamnya ada dinner. Cocktail party. Semacam prasmanan, tapi makanannya yang ngider. Jadi, sambil ngobrol, ada pelayan yang menawarkan berbagai macam makanan. Ngobrol sama satu teman baru dari Denmark. Dia sempat cerai dan sekarang memiliki istri kedua. Cerita bagaimana dia menyesal karena kurang memperhatikan mantan istrinya. Tak mau terulang lagi, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memberi prioritas utama pada keluarga.

Sebuah kesalahan. Kadang kita memupuknya sampai akhirnya berdampak fatal. Blass! Menyesal. Tapi terlambat. Waktu tak bisa diputar kembali. Namun, kita juga bisa belajar dari pengalaman orang lain. Mari introspeksi. Adakah "kebiasaan buruk" yang kita pupuk tiap hari?

Monday, July 30, 2007

Dermawan

Pagi ini diajakin main tenis lagi sama bapak profesor. Salut buat semangatnya. Padahal kemarin baru main single. Siangan ke gereja. Masih seputar 10 Perintah Allah. Sekarang perintah ke-8 - jangan mencuri. Pulang gereja mampir supermarket. Persiapaan makanan buat seminggu. Padahal di Singapura, bisa dihitung jari pergi ke supermarket beli daging. :) Memang dimana-mana selalu ada positif negatifnya.

Kotbah hari ini menarik. Sepuluh perintah kita lihat dari sisi positifnya. Lawan dari "jangan mencuri" adalah "patut memberi". Dengan kata lain, kita diajar menjadi "dermawan". Kita memberi karena kita telah menerima segalanya daripada-Nya. Ga melulu soal uang. Tapi, termasuk waktu dan talenta kita. Sudahkan kita memberi yang terbaik bagi-Nya?

Sunday, July 29, 2007

Main Tenis

Pagi ini diajak main tenis oleh teman profesor disini. Usianya sudah lanjut. Sekitar 70 tahun. Saya salut dengan semangatnya. Seminggu bisa dua tiga kali ngajak main tenis. Hari ini main single. Meski pukulannya ga keras, tapi dia ulet. Senang juga. Itung-itung latihan konsistensi. :) Besok pagi dia ajak main lagi. Kalau ga hujan. Benar-benar semangat deh.

Seharian di rumah. Santai-santai sambil sedikit mengerjakan project. Meski pagi cerah, seharian ini hujan. Nyaman dingin-dingin begini.

Saturday, July 28, 2007

Sekilas Jumat

Hari ini group outing. Semacam acara kebersamaan anggota lab. Menarik. Disini profesor yang punya inisiatif untuk ngumpulin anak buahnya. Acaranya juga lucu. Baseball game! Karena ingin dibarengi makan siang, mulainya jadi siang. Matahari terik. Panas. Seru. Tim kita menang. :)

Malam ada persekutuan orang Indonesia. Topik hari ini tentang Yohanes 9. Tentang orang buta yang disembuhkan Yesus. Dibawakan oleh teman pendeta GKI yang sedang studi disini. Sudut pandangnya naratif. Kita diskusi tentang peran tiap tokoh dalam tiap adegan. Pesannya banyak dan konstruktif. Salah satunya adalah "iman bertumbuh saat kita dalam pencobaan". Saya disadarkan kembali. Firman Tuhan itu kaya - asal kita mau belajar dan mau dibentuk.

Thursday, July 26, 2007

Asian Flush

Hari ini seperti biasa. Pagi sampai sore kerja di kampus. Malam diajak teman lab pergi ke bar. Orang sini suka banget sama yang namanya bir. Sekedar minum-minum sambil bersenda-gurau. Saya hanya minum satu gelas bir, namun wajah memerah. Salah satu teman menganjurkan untuk dicek. Pulang, cek di internet. Ternyata benar. Ada yang namanya "Asian flush". Tidak tahan alkohol. Ciri-cirinya adalah wajah memerah, kulit pedih/gatal dan kepala terasa berat. Ini akibat perbedaan genetik orang Asia, terutama Asia Tenggara. Enzim untuk mengurai alkohol tidak berfungsi baik. Akibatnya, banyak senyawa kimia sampingan yang diproduksi. Umumnya beracun. Bahaya buat tubuh, terutama liver. Memang alkohol bukan buat saya. :)

Ada hikmahnya juga. Kadang kita mesti tahu "batas". Mengenal keterbatasan diri sama dengan "sayang diri". Menjaga kesehatan juga salah satu ibadah.

Wednesday, July 25, 2007

Rencana

Kehabisan tiket US Open! Itulah tentang hari ini. :( Sudah direncanakan jauh-jauh dari Singapura. Eh, malah batal. Salah sendiri juga. Gamau pergi sendiri, nunggu-nunggu teman. Malah kehabisan tiket. Terlalu mepet. Kecewa berat. Ga jadi deh nonton Federer. Hiks..

Memang manusia bisa berencana, tapi kenyataan kadang bicara lain. Demikian pula dengan hidup kita. Seperti kata bijak Amsal 16:9, "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya." Bukan berarti rencana itu tidak penting. Rencana itu perlu. Jangan sampai kehabisan tiket. Sad again. Tapi, percayalah, Tuhan punya "yang lain" untuk Anda.

Tuesday, July 24, 2007

Dingin

Hari ini dingin. Pagi sudah mendung. Siang sampai malam hujan. Meskipun hanya rintik-rintik. Kontras sekali dengan cuaca di Singapura. Bisa panas seharian. Lembab meski hujan. Saya pribadi senang dengan cuaca disini. Mungkin karena orang Bandung. :)

Namun, tak jarang orang berkeluh kesah tentang cuaca. Dimanapun mereka. Disini ada saja orang yang merasa "terlalu dingin". Sama halnya, orang Singapura bilang "terlalu panas". :) Memang manusia mungkin suka mengeluh. Tak pernah puas.

Seharian kerja di kampus. Tadinya mau main tenis, tapi hujan. Pulang ke rumah pagian. Masak. Hari ini makan tumis bayam dan sisa semur kemarin.

Monday, July 23, 2007

Sekilas Minggu

Hari Minggu. Ada balap F1. GP Eropa di Jerman. Sempat nonton sebelum ke gereja. Seru. Balapan sempat berhenti di awal menyusul banyaknya kecelakaan. Penyebabnya sepele - "hujan". Balapan makin seru dengan hujan yang datang dan pergi. Akhirnya, Alonso memenangi balapan "dramatis" ini.

Terpikir bagaimana alam mampu "menyesuaikan" rencana dan rancangan manusia. F1 termasuk olahraga mahal sekaligus berteknologi tinggi. Namun, tetap saja kita yang perlu "menyesuaikan". :) Betapa ajaibnya buatan tangan-Nya.

Siangan ke gereja. Minggu ini masih seri "10 Perintah Allah". Membahas perintah ke-7: "Jangan berzinah". Dikaitkan dengan Matius 5:29, "Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu..." Apakah perintah ini harus ditaati secara harfiah? Tentu bukan. Tuhan Yesus memiliki pesan simbolis yang lebih mendalam. Salah satunya adalah "lakukan yang bisa kamu lakukan untuk lepas dari dosa (seksual)". Misalnya, bila ada godaan selingkuh di tempat kerja, hindari itu. Lari. Kalau perlu, pindah pekerjaan. Daripada jatuh dalam dosa. Jangan biarkan diri kita seperti katak dalam panci berisi air. Yang dipanaskan sedikit demi sedikit. Hilang sensitivitas atas ancaman. Merasa "nyaman", namun pada akhirnya ia mati.

Sunday, July 22, 2007

Nonton

Hari ini acaranya cuma satu. Nonton. :) Pagi-pagi jam setengah sebelas. Tiketnya lebih murah. Cuma 6 dolar. Disini nonton beda. Ga ada nomor kursi. Siapa cepat, dapat posisi bagus. Uniknya lagi, pemeriksaan karcis cuma di depan. Jadi, hari ini "nakal". Selesai satu, masuk ke teater lain. :)

Pulang sorean. Masak nasi sama rendang. Disini harus masak kalo mau hemat. Di Singapura, kadang suka "bosen" mau makan apa. Mestinya harus disyukuri. Ga usah repot-repot masak. Pilihannya juga banyak. Omong-omong. Kangen juga ama chicken rice sama charsieuw.

Saturday, July 21, 2007

Sekilas Jumat

Setelah semalaman hujan, pagi ini cuaca cukup cerah. Siangnya hujan cukup lama. Di Boston hujan cukup "unik". Butirannya lebih kecil. Kadang kurang terlihat dari dalam ruangan. Cuacanya yang sejuk bikin nyaman. Jadi kangen Bandung. :) Katanya cuaca sekarang tuh yang paling panas sepanjang tahun. Ga kebayang kalau musim dingin nanti. Mudah-mudahan badan bisa tahan. Saya tuh belum pernah merasakan dinginnya salju.

Seharian rutin kerja di kampus. Pulang agak pagian. Malam ada persekutuan Indonesia. Membahas tentang kekuatiran. Meski mesti dihindari, kuatir ada hikmah positifnya. Pertama, kita diajar untuk selalu berserah kepada-Nya. Kedua, setidaknya kita menjadi lebih waspada. Ga sembrono. Acara dilanjutkan makan malam di Chinatown. Sambil ngobrol. Saya tuh paling menikmati suasana kebersamaan seperti ini. Selalu senang ada saudara sebangsa meski jauh dari tanah air. :)

Saturday, July 14, 2007

Pede Dong!

Katanya orang Indonesia hobi memperolok bangsanya sendiri, terutama bagi mereka yang berdomisili di luar negeri. Namun, beruntunglah kita punya pemimpin yang pede. Dalam penutupan sebuah munas kemarin, SBY mengingatkan, " Jangan merasa paling buruk di dunia. Ada kesempatan untuk bangkit. Percayalah." Sebagai tolok ukur, dalam World Economic Forum 2006-2007, posisi Indonesia ada di peringkat 50 dari 125 negara dalam hal global competitiveness.

Dalam keadaan terpuruk, orang cenderung untuk memperolok; daripada membangun. Mari ubah pola pikir kita. Ingat akan "akar" kita! Jangan katakan "tidak bisa" kalau belum dicoba. Semuanya bisa berubah "asal berusaha". Percayalah: bersama kita bisa!

Friday, July 13, 2007

When Enough is Enough

Sulit untuk dipahami, tetapi manusia adalah makhluk yang sulit puas. Bayangkan saat mulai bekerja dan menerima uang, kita berpikir nikmatnya punya uang. Lalu, semakin pula kita giat bekerja, berpikir tentang bonus akhir tahun dan THR. Sejak saat itulah, mungkin kita sudah bekerja untuk uang.

Lah, wong ga ada salahnya kan punya uang banyak? Dengannya kita bisa membantu lebih banyak orang. Tapi, benarkah itu yang kita lakukan? Setelah memilikinya, kita malah cenderung berpikir untuk menabungnya, menginvestasikannya; daripada menolong orang lain. Prinsip "cukup sendiri dahulu, baru menolong orang" tampak mengawang di angkasa - karena kita "tak pernah merasa puas". Alhasil, apapun yang kita miliki selalu "tak pernah cukup".

Kendalikanlah dirimu sedemikian rupa - cukupkan dengan apa yang ada padamu.

Wednesday, July 11, 2007

Fantastic, Roger!

Roger Federer meraih gelarnya yang kelima di Wimbledon. Hebatnya, ia meraihnya secara beruntun (2003-2007) dan berhasil menyamai rekor Bjorn Borg (1976-1980). Namun, perjuangannya bukanlah mudah. Di final, ia bersusah payah "mengalahkan" Rafael Nadal dalam pertarungan lima set dalam waktu hampir 4 jam. Sempat terancam dua break point 15-40 di set penentuan, mental juara dan "keberuntungan" meloloskan dia. Ia malah berhasil mem-break Nadal dua kali di set tersebut.

Usai bertanding, dia menyalami Nadal dan berkata, "Engkau juga layak akan gelar juara ini." Pertandingan final ini akan menjadi momen final Wimbledon sepanjang masa. Kedua pemain ini bertanding sama baik hingga hampir tak bisa ditentukan pemenangnya. Hanya saja "keberuntungan" berbicara lain. Apapun itu, Federer merupakan satu petenis terbaik saat ini - bahkan mungkin sepanjang masa. Ia telah mengumpulkan 11 gelar Grand Slam, kecuali Roland Garros. Fantastic, Roger! Sebaliknya, Nadal - dengan usianya yang masih muda (21 tahun) - juga diyakini akan menjadi juara Wimbledon di masa mendatang.

Kerap hidup terasa "bukan" di tangan kita. Keberuntungan dan kemalangan datang silih berganti tanpa kita duga. Namun, bukan berarti kita harus berserah pada "nasib". Tetap lakukan yang terbaik sambil terus berdoa dan berharap.
Indonesia 2 - Bahrain 1

Indonesia Raya berkumandang di Stadion Bung Karno! Tuan rumah Indonesia berhasil menang atas tim kuat Bahrain di ajang Piala Asia 2007 - Bahrain meraih posisi ke-4 pada Piala Asia 2004. Kedua gol kemenangan Indonesia dicetak oleh Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas. Bermain taktis, disiplin dan cepat, Indonesia mampu meredam kelebihan teknik para pemain Bahrain. Semangat juang yang tinggi bak tentara patut diacungi jempol. Ditinggal kapten Ponaryo Astaman dan Mahyadi Panggabean yang cedera di babak pertama, pemain pengganti Eka Ramdani dan Supardi juga tidak kalah kelas.

Namun, bintang malam itu adalah Firman Utina. Gelandang Persita Tangerang ini dengan kelincahannya mampu mengobrak-abrik pertahanan Bahrain. Lewat aksinya, ia menyumbangkan dua assist. Yang terakhir adalah tendangan kerasnya yang membentur tiang gawang lalu disambut menjadi gol oleh Bambang. Posturnya yang tergolong pendek (165 cm) bukannya jadi penghalang. Malah, hal itulah yang memberinya keleluasaan untuk men-dribble bola.

Segala sesuatu ada kelebihan dan kekurangannya. Kuncinya adalah bagaimana kita menyikapinya. Berkibarlah Merah Putih! Terus berprestasi dengan tetap mawas diri.