Gagal, Menyesal dan Belajar
Udah lama ga nulis blog. Gatel juga pengen nulis. Bukan males, tapi hidup seperti roller coaster belakangan ini - naik turun tak terduga. Sekarang lagi di "bawah", bingung gimana naiknya. :) Kepingin nyampein uneg2 hati; berkaitan dengan kegagalan.
Kegagalan kerap diidentikkan dengan penderitaan hidup. Saat jalan di depan berliku dan bergelombang, manusia merasa dirinya tidak berguna. Alias gagal. Ironisnya,banyak yang menganggap itu adalah bagian dari pencobaan. Dimana kita "diberikan" beban yang tak melebihi kemampuan.
Benarkah itu? Jika kasusnya seperti Ayub yang dicobai Iblis, ya mungkin benar. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, kegagalan manusia tuh kok lebih banyak "salah sendiri". Daud dan Salomo gagal karena tak mampu menahan nafsu duniawi. Musa gagal karena tak mampu menahan emosi. Yudas gagal karena kecewa. Dan, banyak lagi.
Maka, sebelum berkesimpulan, berkacalah dulu. Sama seperti saya sekarang. :) Gagal dari kesalahan sendiri di masa lalu. Benar ada situasi dimana kita tak berkuasa menciptakan suasana kondusif sehingga berujung pada kegagalan. Sayangnya, hal itu cuma bisa ditatap balik. Kerap diikuti dengan menggurutu. :) Ujung-ujungnya ya penyesalan.
Nah, harusnya bagaimana? Saya berpikir, sebisa mungkin hindarilah penyesalan. Caranya? Berusahalah sebaik mungkin. Apapun emosi kita saat ini. Seburuk apapun kondisi lingkungan di sekitar kita. Jangan seperti orang yang begitu pesimisnya dengan kondisi di negara kita (Indonesia - red) sampai tidak mau berusaha keras. Akhirnya, yang gagal ya diri dia sendiri.
Maka, jalanilah hari ini dengan legowo. Seperti kata pepatah, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah misteri, masa kini adalah kenyataan. Jika tidak mampu mengubah keadaan sekitar, mulailah dengan diri sendiri. Tetap kerjakan bagian kita. Hari ini dengan sebaik-baiknya. Ingat, masa depan adalah misteri. Namun, dengan berusaha, setidaknya kita menyongsongnya dengan penuh harapan.
No comments:
Post a Comment