Saturday, December 29, 2007
Hari ini main snowboarding - papan seluncur di es. Nginep di rumah teman. Rencananya pagi mau berangkat. Supaya ga terlalu rame. Kita main di Wachuset (http://wawa.wachusett.com/). Pengalaman pertama. =) Ngeliat orang main tampak mudah. Ternyata ga juga. Jatuh bangun berulang kali. Pergelangan tangan dan pantat yang sakit. Hehe. Tapi senang. Kapan-kapan mau coba lagi.
Lihat anak masih kecil sudah diajar maen ski atau snowboarding. Sama juga sih jatuh bangun. :) Saya kagum sama orang tua yang mendampingi mereka. Anak-anak itu sebenarnya takut. Terlihat dari mereka yang ga mau lepas dari orang tuanya. Namun, orang tua mereka selalu memberi semangat. Jatuhpun tak apa - asalkan mencoba. Mereka berani "melepas" - tapi bukan berarti dicuekin. Mendorong dari belakang - tut wuri handayani.
Malam makan di restoran buffet Jepang. Aneka macam sushi dan sashimi. Yummy.. Kita sengaja ga makan siang waktu snowboarding. Lahap sekali makannya. Pulang diantar teman. Badan sudah pegal semua. Udah pengen tidur sekarang - bakalan nyenyak.
Thursday, December 27, 2007
Hari ini saya merasa sangat bersyukur. Di tengah semua kesulitan yang membuat saya terjerembab, titik-titik harapan itu malah timbul. Disini nilai keluar sangatlah cepat. Ujian akhir baru minggu kemarin, hari ini sudah ketawan nilain akhirnya. Tak berharap banyak, saya senang bisa lulus dengan baik. Thanks, my Jesus!
Saya belajar lagi. Janganlah putus asa - Dia tahu yang terbaik. Hari baik hari buruk akan selalu ada. Datang silih berganti. Namun, berusaha dan bersyukur itu haruslah senantiasa. Dengannya kita bisa melangkah pasti - ke depan, bukannya surut ke belakang. Ga mudah, tapi kita bisa selalu belajar.
Tuesday, December 25, 2007
Hari ini 25 Desember. Hari Natal. Natal yang sama sekali berbeda buat saya. Di Boston. Salju. Sayangnya, sendiri. Biasanya saya selalu pulang Bandung kalau Natalan.
Seharian diam di rumah. Di Amrik ini unik. Natal tuh ramainya waktu malam Natal, tanggal 24 Desember. Tanggal 25 malah ga ada kebaktian. Tadi sempat cari di internet. Siapa tahu ada kebaktian Natal di salah satu gereja di Boston. Ketemu satu. Tapi ternyata... Gerejanya meng-"halal"-kan pernikahan sesama jenis. Waakkk. Ga jadi deh. :)
Diam di rumah ternyata enak juga. Santai, bisa merenung. Dari dulu saya selalu kepingin Natal yang sederhana. Lepas dari semua kesibukan. Justru karena selalu pulang Bandung, keinginan itu malah tak pernah tercapai. Bukan berarti saya anti keramaian. Saya senang bisa merayakan Natal bersama keluarga dan teman. Namun, kadang kita juga perlu waktu untuk sendiri. Sekedar untuk berelasi lebih dekat dengan-Nya.
Baca di Kompas dan Pikiran Rakyat, Natal di Indonesia (khususnya Bandung) damai dan lancar. Menggembirakan. Di Katedral Bandung bahkan ada aksi "mawar putih". Umat agama selain Kristen membagikan bunga mawar putih kepada jemaat Katolik. Lambang persaudaraan dan perdamaian. Mirip tahun lalu waktu saya kebaktian di GKI Maulana Yusuf. Good.
Selamat Natal, friends!
Semoga blog ini bisa jadi berkat bagi yang suka membacanya. Thanks.
Komen buat blog juga tetap dinantikan.
Monday, December 24, 2007
Mungkin agak terlalu awal untuk refleksi akhir tahun. Namun, malam Natal adalah satu momen dimana kita bisa "berdamai" dengan Tuhan dan diri sendiri. Momen dimana kita bisa duduk diam - memandang ke belakang, bersyukur, dan memantapkan langkah pada hari ini untuk bertolak ke depan.
Bagi saya pribadi, 2007 bukan tahun yang mudah. Pengalaman di Boston banyak mengubah setidaknya cara pandang hidup saya. Saya belajar. Belajar bersyukur - terlepas dari kenyataan hidup yang manis dan pahit. Belajar bahwa segala sesuatu ga bisa seperti yang kita mau - sekeras apapun kita berusaha. Kadang kita mungkin suka "maksa. Namun, saya belajar Dia-lah yang menentukan "bagian" kita. Yang pasti - Dia tahu apa yang kita butuh (bukan mau) dan kita tak akan pernah kekurangan.
Saya senang di akhir tahun ini saya bisa agak "santai" - meskipun sendiri. :) Senang juga karena sebentar lagi saya akan pulang ke Singapura. Senang karena saya tahu Ia memelihara. Terlebih senang lagi karena saya bisa menatap ke depan di tahun yang baru. Mungkin 2008 tidak lebih baik atau bahkan amat lebih baik 2007. Saya tidak tahu. Itu "kebijakan"-Nya. Yang pasti masih ada pengharapan di depan - minimal untuk berbagi kasih dengan sesama.
I'm coming home! =)
Sunday, December 23, 2007
Pikir-pikir paling gampang tuh jadi orang yang egois. Alias individualis. Mau pergi kemana gampang. Mau makan apa gampang. Bayangkan Anda harus mengajak beberapa teman untuk makan bareng - sulitnya minta ampun. Ga heran sekarang olahraga fitness makin populer dibanding olahraga lainnya. Soalnya sendiri - bisa lebih fleksibel.
Namun, gampang bukan berarti benar lho. Kadang saya merasa "hampa" kalau segala sesuatu dilakukan sendiri. Memang lebih mudah dan perasaan terpuaskan. Namun, setelahnya - "so what gitu loh?" Saya tuh masih percaya hidup akan lebih indah kalau dijalani bersama - apalagi bersama keluarga yang dicintai. Di jaman yang serba sibuk ini, meluangkan waktu menjadi satu hal yang sulit. Namun, itu barangkali kuncinya.
Thursday, December 20, 2007
Hari ini beres ujian akhir. Leganya. Sudah dua tahun terakhir ga pernah ambil kelas, jadi agak kikuk ngadepin ujian. Saya diingatkan kembali - nyiapin ujian itu ga gampang lho. Kadang bahan terlalu banyak sampai ga cukup waktu. Sebaliknya, bahannya relatif sedikit namun bingung belajar apa lagi. :)
Saya selalu diingatkan ayah saya - usahakan yang terbaik, biar Tuhan yang lakukan sisanya. Prinsip itu saya pegang sampai sekarang. Ga ada yang salah pingin nilai bagus - semua orang juga mau. Namun yang penting ya usaha. Hasil merupakan bagian dari berkat Tuhan. Apapun hasilnya, kita akan puas karena sudah melakukan yang terbaik.
Disini ujian akhir sudah hampir beres - masa liburan tiba. Tak terasa penghujung tahun sudah di depan mata. Hari bertambah dan semoga kita makin bertumbuh.
Wednesday, December 19, 2007
Sadar tak disadari, kenyataan hidup kerap membuat kita terhenyak. Kaget. Kadang kita cuma bisa bengong dan bertanya, "Kok bisa begini ya?" "Apa yang salah?" Dan sebagainya. Saya pernah baca di buku Tender Warrior - istilah kerennya tuh wake-up call. Kita yang sebelumnya santai dan nyaman, tiba-tiba dikejutkan dengan sesuatu yang tak pernah kita duga. Terhenyak - mungkin juga "disadarkan".
Pengalaman ini pula yang terjadi pada diri saya hari ini. Banyak hal yang saya tak duga malahan terjadi. Uniknya semua terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Saya terhenyak. Bingung tanpa bisa berkata. Mestinya saya bisa menangis, namun itupun sulit. Terhenyak. Mungkin beginilah hidup - segala sesuatu ga seperti yang kita mau. Saatnya bersikap legowo - menerima kenyataan dan tetap "mengalir".
Sunday, December 16, 2007
Hari ini kita ada pesta natal ICF. Pot luck - tiap orang bawa makanan dari rumah masing-masing. Acara dimulai. Langsung santap! :) Soalnya sudah jam satu lebih saat semuanya berkumpul.
Habis makan, ada renungan Natal singkat dari Joas. Natal sekarang kerap diwarnai komersionalisasi. Hiasan-hiasan, hadiah, acara-acara yang meriah seringkali dilakukan tanpa Sang Bayi. Sebaliknya, kadang kita terlalu khusyuk "menikmati" Sang Bayi hingga lupa akan "orang lain". Kita diingatkan untuk membagikan berita sukacita dan kasih Natal bagi orang lain - terutama yang belum mengenal-Nya. :)
Lalu ada acara baby shower. Akan ada satu anggota ICF yang baru dari Alex dan Debby. :) Saya yang akan meninggalkan Boston kurang dari sebulan juga diberi acara khusus. Kesan dan pesan selama disini. Dan juga diberi hadiah poster dan kaos Boston. ICF Boston akan selalu berkesan di hati saya. Saya diberkati dengan suasana kekeluaragaan yang selalu hangat dan hidup. Thanks, friends!
Saturday, December 15, 2007
Malam ini baru pulang nonton Mamma Mia! Ini drama musikal pertama yang pernah saya tonton. Mumpung Broadway lagi singgah di Boston. :) Nonton bareng dua teman lainnya. Ternyata bagus banget! Musiknya Abba. Saya suka.
Ceritanya tentang seorang gadis yang akan menikah. Ia dibesarkan oleh ibunya tanpa tahu siapa ayahnya. Diam-diam dia mambaca diary ibunya dan mengundang tiga pria yang kemungkinan adalah ayah kandungnya. Uniknya akhir cerita tidak terbukti siapa sebenarnya ayahnya. Sang gadis dan calon suaminya memutuskan untuk menunda pernikahan demi mengenal satu sama lain lebih jauh. Malahan, satu dari tiga pria akhirnya menyatakan cinta pada sang ibu dan menikah. Unik. :)
Friday, December 14, 2007
Ini bukan berita, tapi kisah nyata. Hari ini Boston badai salju. Dimulai dari siang sekitar pukul satu sampai malam. Awalnya salju turun. Makin lama makin banyak. Dan langitpun makin gelap.
Baca di email, kampus MIT tutup jam 2. Sekolah-sekolah lain juga banyak yang tutup lebih awal. Jalanan macet total. Banyak orang yang terjebak berjam-jam di kendaraan mereka. Samar terlihat antrian mobil di jalan di depan rumah.
Saya agak beruntung hari ini diam di rumah. Pagi kepala terasa agak berat. Saya putuskan istirahat di rumah. Sempat ambil foto-foto di sekitar rumah. Maklum. Orang tropis jarang dapat kesempatan melihat salju. Kurang dari sebulan, saya akan pulang ke Singapura. Tak terasa. Banyak kenangan - baik maupun buruk - telah terjadi disini.
Tuesday, December 11, 2007
Cara menikmati teh ada bermacam-macam. Salah satunya dengan tambahan cita rasa lainnya. Nah, konon jenis cita rasa teh dan kepribadian itu erat kaitannya.
1. Jahe - si Sosial
Mereka yang menggemari sensasi hangat secangkir teh bercampur jahe biasanya adalah pribadi yang mudah bergaul dengan siapa saja, memiliki perhatian yang tulus dan bisa membuat orang disekitarnya merasa nyaman. Seorang ginger terkadang bersifat terlalu naif dan masa bodoh dalam menghadapi berbagai konflik sehingga seringkali panik dalam sikon penuh tekanan. Syukurlah, ketulusannya bisa menetralisir kecenderungan jelek ini. Ini menjadi motivator penting bagi pribadi ginger untuk melakukan berbagai hal bermanfaat.
2. Jeruk nipis - si Enerjik
Lain lagi dengan seorang penggemar teh bercita rasa (bercampur) jeruk. Sifatnya enerjik sesuai dengan rasanya. Seorang lime dengan kepribadiannya yang ‘segar’ juga membawa kesegaran bagi orang lain. Biasa tampil kreatif dan suka mencoba hal-hal seru. Pembawaan lime sangat ekspresif. Si jeruk ini adalah sosok yang sangat atraktif. Seorang lime terkadang tampak emosional, meski sebetulnya menyenangkan terutama bila diajak sebagai teman jalan-jalan. Walau terkadang sangat penuntut, selama itu digunakan untuk membantu orang lain agar lebih maju, kenapa tidak? Sosok lime adalah figur yang fun, karena tahu ribuan cara untuk menikmati hidup tanpa perlu mengesampingkan tanggung jawab yang diembannya.
3. Madu - si Motivator
Saat Anda bangun pagi dan bersiap-siap ke kantor, atau saat Anda sedang bersusah hati, Adakah seseorang di kantor atau lingkungan persahabatan Anda yang bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik? Adakah sesorang yang bisa memotivasi Anda untuk melampaui harapan dalam berkerja maupun melewati masa-masa sulit? Apabila ya, maka Anda beruntung memiliki seorang Honey Personalitea dalam hidup Anda. Sosok honey adalah pribadi pembangkit semangat, yang cenderung memiliki sifat super manis dan menyenangkan bagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan semangatnya yang tinggi, seorang honey adalah sosok yang cenderung detail dalam menyikapi beberapa hal. Meski terkadang agak konvensional dan manja, optimisme dan kemauannya yang kuat dalam banyak hal dapat menularkan semangat yang sama ini pada orang lain.
4. Susu - si Kalem
Milk tea merupakan ramuan teh tradisional di Inggris. Ramuan ini dikenal memberikan rasa tenang dan nyaman bagi yang meminumnya. Jika dipersonifikasi, seorang sosok Milk Personalitea menggambarkan orang-orang yang bersifat tenang, karena cenderung memiliki kharisma tersendiri dalam keteduhan karakternya. Seorang Milk Personalitea sangat sabar bila mendengarkan keluh kesah orang lain. Dia juga mampu memberikan suntikan nutrisi semangat melalui solusi-solusi yang nyata. Tak heran orang-orang lain senantiasa tenang bila bersamanya. Biasanya para milk memiliki kualitas yang patut diteladani, karena itu cocok menjadi pemimpin. Sayangnya terkadang mereka seolah hidup dalam dunia hitam-putih yang kaku sehingga sering terkesan kurang fleksibel dalam menyelesaikan sesuatu.
Sumber: Harian Kompas
Karakter manusia itu beragam. Jangan diadu, tapi dipadukan.
Monday, December 10, 2007
Mungkin terlintas aneh bagi kita orang Kristen, namun itulah himbauan Natal di Amerika Serikat - setidaknya di gereja yang saya kunjungi. Put Christ back to Christmas. Kadang kita lupa, begitu banyak orang di luar sana yang merayakan Natal tanpa Yesus. Saya cukup prihatin mendengar bahwa "Merry Chiristmas" telah berganti menjadi "Happy Holiday" di Amerika Serikat. Konon tujuannya agar masa liburan ini bisa dinikmati oleh semua kalangan agama. Segala hadiah dan kemeriahan dilangsungkan, namun maknanya luntur. Adakah sisi ke-eksklusifan gereja dalam hal ini? Atau, kita sendiri yang tak mau peduli? Natal kali ini marilah kita ingat orang-orang di sekitar kita. Ajak mereka untuk memaknai Natal sebagai wujud kasih Allah akan dunia.
Satu kata yang sangat sederhana, namun "peminat"-nya banyak. Siapa sih yang ga pingin dihormati? Atasan ingin dihormati bawahannya, guru ingin dihormati muridnya. Bahkan orang tua ingin dihormati anak-anaknya - terlepas dari kasih sayang yang mereka berikan.
Ingin dihormati tidaklah salah - asalkan jangan "gila hormat". Lalu bagaimana caranya mendapat hormat? Ada pepatah lama - "barangsiapa ingin dihormati, hendaknya ia menghormati orang lain terlebih dulu".
Saya jadi teringat perintah ke-4 dari Sepuluh Perintah Allah - "hormatilah hari Sabat". Saya yakin Allah kita tidaklah "gila hormat". Namun, sudah sewajarnya kita sebagai anak-anakNya untuk menghormati-Nya. Satu cara untuk menyenangkan hati-Nya. Daripadanya akan terbina interaksi vertikal yang harmonis.
Sudahkah kita menghormati-Nya? Meluangkan waktu di hari Minggu untuk datang ke gereja bisa jadi permulaan yang baik.
Sunday, December 02, 2007
Bicara tentang cinta, kita akan sadar dan mengerti betapa rumitnya manusia. Hal yang ingin kita bilang justru tak pernah kita ungkap. Contohnya, kapan terakhir Anda berkata sayang kepada orang tua atau anak Anda. Kita seringkali berkata dalam bahasa isyarat seperti “hati-hati ya”, “tar kalau sudah sampai telpon mama” dan sebagainya. Misteri cinta.
Itulah rumitnya cinta. Ada topik tentang cinta lainnya – “Apakah cinta terbatas atau tak terbatas?” atau “Apakah atas nama cinta kita bisa melakukan apa saja?”. Contoh yang sederhana, berbohong untuk kebaikan – apakah itu boleh. Injil mengajarkan kasih Allah yang tak terbatas – unconditional. Apakah ini relevan dengan kehidupan kita?
Unconditional berarti tak terbatas, absolut. Kalau bahasa kerennya, kasih yang “walaupun”, “meskipun”. Sama seperti kasih Allah Bapa yang mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menebus kita.
Efesus 3:16-19: “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampau segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam segala kepenuhan Allah.”
Kebalikannya ya kasih yang conditional – kasih yang kalau. Kalau kamu baik ya saya baik sama kamu. Kalau kamu kaya ya saya cinta sama kamu.
Namun, apakah ini hanya mitos? Apakah bisa manusia memberikan unconditional love? Seringkali ia berpikir telah memberikan cinta sepenuhnya – nyatanya tidak. Manusia makhluk yang tidak sempurna. Segalanya jadi serba subjektif. Bisa dibilang mudah terbawa nafsu atau emosi. Atas nama cinta kita bisa melakukan segalanya. Contoh – seorang pria putus cinta. Ia meraung-raung dan menangis sepanjang malam. Padahal sang wanita merasa selama berpacaran banyak ketidakcocokan terjadi diantara mereka. Siapa yang benar saya tidak tahu, tapi tampak jelas sisi keegoisan manusia – selalu mengganggap dirinya benar. Nyatanya, itu mencerminkan sikap cengeng karena keinginannya yang terpenuhi.
Ada satu cerita tentang doa mencari cinta:
Seorang gadis lajang dengan khusyuk berdoa: “Ya Tuhan, kalau memang dia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau bukan juga, selingkuhkanlah. Terima kasih. Amin”. Yah, itu sih maksa.
Lah bagaimana dengan ayat yang baru kita baca? Atau, Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengarunakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Adakah unconditional love disini? Jawabnya: ADA! Namun, ada kesan proaktif dari yang diberi. Juga cerita tentang anak yang hilang. Kisah tersebut menggambarkan kesabaran dan pengampunan yang besar oleh seorang ayah kepada anaknya yang sesat. Namun pada akhirnya anak tersebut bertobat! Kesan proaktif kembali. Namun ada benang merah yang bisa diambil. Unconditional love bukanlah mitos! Unconditional love adalah memberi tanpa berharap menerima. Kita sebagai makhluk yang tidak sempurnapun masih bisa melakukannya. Caranya? Hilangkan sisi keegoisan kita, jangan cepat menghakimi, taburkanlah kasih. Mungkin sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.
Minggu ini kita memasuki minggu Advent Natal yang pertama. Kita diingatkan akan cinta Bapa yang begitu besar – yang sempurna - mengirimkan Anak-Nya yang tunggal dalam wujud manusia. Mungkin kita tak bisa memberikan kasih yang sempurna seperti layaknya Ia. Namun, saya yakin kita bisa memberi yang terbaik kalau kita mau lebih peduli. Berapa banyak orang yang belum mengenal kasih Kristus? Maukah kita mengasihi orang-orang yang “membenci” kita? Jangan terlambat mengucapkan cinta.
Ada sebuah ilustrasi. Pada akhir Perang Dunia ke-2 seorang pemuda yang telah selesai bertugas melayani negaranya di medan perang menelpon orang tuanya. Ia berkata bahwa ia akan pulang dengan seorang teman. “Tapi Ma” katanya, “Teman saya ini cacat. Dia luka parah. Dia hanya punya satu tangan, satu kaki dan satu mata. Jadi saya pikir ia sebaiknya tinggal dengan kita” Sejenak hening. Tidak ada jawaban. Namun akhirnya sang ibu berkata “Baiklah, dia boleh datang dan tinggal di rumah kita sebentar saja”. Dari keraguan suara ibunya pemuda itu menyadari bahwa mereka sebenarnnya tidak ingin dibebani oleh orang cacat untuk waktu yang lama. Dua hari kemudian orang tua tersebut menerima telegram yang mengabarkan bahwa anak mereka mati bunuh diri dengan melompat dari kamar hotel. Pada waktu mereka menerima mayat anak kesayangan mereka tersebut, ia hanya memiliki satu tangan, satu kaki, dan satu mata.
Orang tua tersebut tentunya sangat menyesal. “Ah seandainya saya tahu….”
Seaindainya saya tahu ada gelandangan yang butuh tempat tinggal .
Seandainya saya tahu ada pengemis yang butuh makanan
Seandainya saya tahu ada orang sakit yang butuh kunjungan
Seandainya saya tahu ada orang miskin yang butuh pakaian
Seandainya saya tahu bahwa membantu orang kecil dan hina berarti saya melakukannya untuk Tuhan.
Matius 25:45: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”
Selamat Natal!