Musik Gereja
Kerap kita mengidentikkan pelayanan di gereja dengan musik. Itu tidaklah salah, hanya mungkin kita berpikir terlalu sempit. Namun, tulisan ini bukan ingin membahas tentang hal ini. Melainkan tentang musik gereja itu sendiri - tentang jenis musik yang sesuai untuk ibadah.
Jika ada yang berpendapat kalau ibadah mesti diiringi musik yang khidmat, itu soal selera. Atau hanya mengijinkan penggunaan alat-alat musik tertentu, itu juga soal selera. Soal lirik lagu mungkin lebih sensitif, tapi itu juga soal selera. Sama seperti orang yang lebih suka lagu dangdut yang "cengeng" daripada lagu gubahan Beethoven yang "penuh keagungan". Lagu dangdut mungkin lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani - itu nyata.
Selera bukanlah masalah. Namun, hati dan cara adalah penting. Keduanya saling berkaitan - "hati yang tulus" akan melahirkan "cara yang baik". Namun, janganlah kita mengotak-ngotakkan "cara yang baik". Karena kita bukanlah fokus penyembahan itu sendiri. Bila demikian, seakan-akan kita mangganggap kalau kita tahu selera Tuhan. Kita tidaklah tahu - belum tentu Ia lebih suka bebek "Duck King" dibanding pecel lele "warteg". Sama seperti Ia suka akan persembahan janda miskin yang tulus meski kecil jumlahnya. Tapi yang pasti, Ia suka akan penyembahan yang tulus; Ia juga suka akan penyembahan yang terbaik.
Mereka yang bertalenta musik kerap rindu tentang musik "kelas tinggi". Aransmennya bagus dan liriknya agung. Itu tidaklah salah. Mereka mampu, dan mereka menikmatinya. Bagi orang awam (seperti saya juga, hehe), musik yang sederhana lebih bisa dinikmati karena saya bisa menyanyikannya. Dan, disanalah yang terbaik bisa diberikan. Ingat, musik hanyalah sarana atau alat. Bukankah pujian akan jauh lebih indah ketika mereka yang memuji "menikmati" pujian itu sendiri? Setidaknya itu pasti tulus - Dia tahu.
No comments:
Post a Comment