Atas Nama Cinta
Bicara tentang cinta, kita akan sadar dan mengerti betapa rumitnya manusia. Hal yang ingin kita bilang justru tak pernah kita ungkap. Contohnya, kapan terakhir Anda berkata sayang kepada orang tua atau anak Anda. Kita seringkali berkata dalam bahasa isyarat seperti “hati-hati ya”, “tar kalau sudah sampai telpon mama” dan sebagainya. Misteri cinta.
Itulah rumitnya cinta. Ada topik tentang cinta lainnya – “Apakah cinta terbatas atau tak terbatas?” atau “Apakah atas nama cinta kita bisa melakukan apa saja?”. Contoh yang sederhana, berbohong untuk kebaikan – apakah itu boleh. Injil mengajarkan kasih Allah yang tak terbatas – unconditional. Apakah ini relevan dengan kehidupan kita?
Unconditional berarti tak terbatas, absolut. Kalau bahasa kerennya, kasih yang “walaupun”, “meskipun”. Sama seperti kasih Allah Bapa yang mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menebus kita.
Efesus 3:16-19: “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampau segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam segala kepenuhan Allah.”
Kebalikannya ya kasih yang conditional – kasih yang kalau. Kalau kamu baik ya saya baik sama kamu. Kalau kamu kaya ya saya cinta sama kamu.
Namun, apakah ini hanya mitos? Apakah bisa manusia memberikan unconditional love? Seringkali ia berpikir telah memberikan cinta sepenuhnya – nyatanya tidak. Manusia makhluk yang tidak sempurna. Segalanya jadi serba subjektif. Bisa dibilang mudah terbawa nafsu atau emosi. Atas nama cinta kita bisa melakukan segalanya. Contoh – seorang pria putus cinta. Ia meraung-raung dan menangis sepanjang malam. Padahal sang wanita merasa selama berpacaran banyak ketidakcocokan terjadi diantara mereka. Siapa yang benar saya tidak tahu, tapi tampak jelas sisi keegoisan manusia – selalu mengganggap dirinya benar. Nyatanya, itu mencerminkan sikap cengeng karena keinginannya yang terpenuhi.
Ada satu cerita tentang doa mencari cinta:
Seorang gadis lajang dengan khusyuk berdoa: “Ya Tuhan, kalau memang dia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau bukan juga, selingkuhkanlah. Terima kasih. Amin”. Yah, itu sih maksa.
Lah bagaimana dengan ayat yang baru kita baca? Atau, Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengarunakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Adakah unconditional love disini? Jawabnya: ADA! Namun, ada kesan proaktif dari yang diberi. Juga cerita tentang anak yang hilang. Kisah tersebut menggambarkan kesabaran dan pengampunan yang besar oleh seorang ayah kepada anaknya yang sesat. Namun pada akhirnya anak tersebut bertobat! Kesan proaktif kembali. Namun ada benang merah yang bisa diambil. Unconditional love bukanlah mitos! Unconditional love adalah memberi tanpa berharap menerima. Kita sebagai makhluk yang tidak sempurnapun masih bisa melakukannya. Caranya? Hilangkan sisi keegoisan kita, jangan cepat menghakimi, taburkanlah kasih. Mungkin sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.
Minggu ini kita memasuki minggu Advent Natal yang pertama. Kita diingatkan akan cinta Bapa yang begitu besar – yang sempurna - mengirimkan Anak-Nya yang tunggal dalam wujud manusia. Mungkin kita tak bisa memberikan kasih yang sempurna seperti layaknya Ia. Namun, saya yakin kita bisa memberi yang terbaik kalau kita mau lebih peduli. Berapa banyak orang yang belum mengenal kasih Kristus? Maukah kita mengasihi orang-orang yang “membenci” kita? Jangan terlambat mengucapkan cinta.
Ada sebuah ilustrasi. Pada akhir Perang Dunia ke-2 seorang pemuda yang telah selesai bertugas melayani negaranya di medan perang menelpon orang tuanya. Ia berkata bahwa ia akan pulang dengan seorang teman. “Tapi Ma” katanya, “Teman saya ini cacat. Dia luka parah. Dia hanya punya satu tangan, satu kaki dan satu mata. Jadi saya pikir ia sebaiknya tinggal dengan kita” Sejenak hening. Tidak ada jawaban. Namun akhirnya sang ibu berkata “Baiklah, dia boleh datang dan tinggal di rumah kita sebentar saja”. Dari keraguan suara ibunya pemuda itu menyadari bahwa mereka sebenarnnya tidak ingin dibebani oleh orang cacat untuk waktu yang lama. Dua hari kemudian orang tua tersebut menerima telegram yang mengabarkan bahwa anak mereka mati bunuh diri dengan melompat dari kamar hotel. Pada waktu mereka menerima mayat anak kesayangan mereka tersebut, ia hanya memiliki satu tangan, satu kaki, dan satu mata.
Orang tua tersebut tentunya sangat menyesal. “Ah seandainya saya tahu….”
Seaindainya saya tahu ada gelandangan yang butuh tempat tinggal .
Seandainya saya tahu ada pengemis yang butuh makanan
Seandainya saya tahu ada orang sakit yang butuh kunjungan
Seandainya saya tahu ada orang miskin yang butuh pakaian
Seandainya saya tahu bahwa membantu orang kecil dan hina berarti saya melakukannya untuk Tuhan.
Matius 25:45: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”
Selamat Natal!
No comments:
Post a Comment