Kalau mau jujur, hati sedang gundah gulana. Tepaan badai tak kunjung berhenti. Coba untuk bertahan. Rasanya tak sanggup lagi. Ingin rasanya lari. Seakan berada di titik terendah. Saat tak ada yang dapat dipegang. Kecuali kepada-Nya. Apakah ini yang namanya titik transisi?
Ingat pembahasan Injil Yohanes tentang orang buta yang dicelikkan matanya. Yesus tidak selalu bersamanya. Terutama saat ia harus membuktikan iman percayanya. Ia sendirian! Uniknya, ia malah bertumbuh. Dari awalnya menyebut Yesus orang biasa, meningkat kepada nabi dan kemudian utusan Allah. Demikian pula Yesus pada waktu disalibkan. Allah Bapa untuk sesaat tidak bersamanya. Mungkin "ditinggalkan Allah Bapa" adalah alasan utama Yesus berpeluh darah saat berdoa di Taman Getsemani. Bukan karena ketakutan penyiksaan.
Tanpa ingin berteologis, saya tetap berharap. Sambil terus bertanya. Tapi, apakah betul ini? Sendirian? Saya merasakan adanya "pertumbuhan", namun sungguh tidak nyaman.
2 comments:
Salam kenal..
Senang mendengarkan kesaksian dari orang Kristen yang mengalami pertumbuhan, meskipun menyakitkan. Jadi ingat Maz 22..
Keep posting..
Ronald
salam kenal juga, ronald. blog dan tulisan anda juga menarik. keep going.
Post a Comment