When Enough is Enough
Sulit untuk dipahami, tetapi manusia adalah makhluk yang sulit puas. Bayangkan saat mulai bekerja dan menerima uang, kita berpikir nikmatnya punya uang. Lalu, semakin pula kita giat bekerja, berpikir tentang bonus akhir tahun dan THR. Sejak saat itulah, mungkin kita sudah bekerja untuk uang.
Lah, wong ga ada salahnya kan punya uang banyak? Dengannya kita bisa membantu lebih banyak orang. Tapi, benarkah itu yang kita lakukan? Setelah memilikinya, kita malah cenderung berpikir untuk menabungnya, menginvestasikannya; daripada menolong orang lain. Prinsip "cukup sendiri dahulu, baru menolong orang" tampak mengawang di angkasa - karena kita "tak pernah merasa puas". Alhasil, apapun yang kita miliki selalu "tak pernah cukup".
Kendalikanlah dirimu sedemikian rupa - cukupkan dengan apa yang ada padamu.
No comments:
Post a Comment